Akhir-akhir ini beberapa kali saya men-share sesuatu lewat email,, meski kadang sekedar reflective sharing atau hanya menshare apapun yang sedang terpikirkan. Saya menjadi ‘suka’ melakukan hal ini karena selain dapat menjadi sarana silaturahim, reaksinya kebanyakan positif.. Suatu saat, seorang kawan membalas sharing note email tersebut dengan jawaban: ”sistaa…makasii yaa udah dikirimin.. Subhanalloh, tulisan yang punya ruh.. Luv u,sistaa..” Jlebb..saya betul2 tersentak pd kata2 ”tulisan yang punya ruh”..
Satu hal yang saya sukai dari blogging atw menshare tulisan adalah, kita gak pernah tau siapa yang akan baca tulisan kita, juga efeknya terhadap mereka.. Kita hanya tinggal menshare apa yang ada di otak dan hati kita, tanpa harus berpikir apakah tulisan kita bagus atau enggak, disukai atau enggak, menginspirasi atau enggak.. Hanya menuliskan apa yang ada di hati dan otak kita, dengan jujur dan sederhana.. Lalu kemudian menjadi hal yang sangat menyenangkan jika tiba2 dapet ‘hadiah’ tak disangka-sangka setelahnya.. Hadiah itu dapat berupa; ketemu orang2 baru, bs bersilaturahim kembali dgn tmn2 yg sdh lama tak berinteraksi, atw tulisan qt dbaca org dn disukai atw menginspirasi.. Smw itu bukan tujuan memang,hanya bonus atw hadiah.. Tp meski begitu, berbagi memang menyenangkan yaa,, apalagi jika ada sisi kebermanfaatannya..
Kemudian saya jadi berpikir.. Bagaimana sebuah tulisan dapat memiliki ruh? Bagaimana caranya? Yang saya tau, efek tulisan bisa berbeda pada setiap orang yang membacanya.. Jadi, jika seorang pembaca dapat merasakan ruh dari sebuah tulisan, apakah itu hanya sebuah kebetulan? Atau ada yang lain?
Yang kata rasulullah; ”ruh-ruh itu ibarat prajurit yang dibariskan,, yang saling mengenal diantaranya akan saling melembut dan menyatu,, yang tidak saling mengenal diantara mereka akan saling berbeda dan berpisah”
Hemm, apapun itu.. Saya hanya yakin bahwa sesuatu yang berasal dari hati akan masuk pula ke dalam hati.. Saya tidak tau apakah saya menulis dari hati atau tidak, saya juga tidak tau menulis dari hati itu yang bagaimana,, yang saya tau, saya hanya menulis saja.. ‘Seada-adanya’..
Dalam konteks yang lain,, saya jadi teringat sebuah ayat di Al-muzammil.. Dimana Allah akan menjadikan ‘berat’ perkataan orang-orang yang terbiasa qiyamullail..
Tiba-tiba pula saya teringat sebuah masa,, masa dimana saya newbie dan banyak belajar.. Dimana saat itu sang korwat sering berkata; ‘saya gak berani berpendapat sebagai landasan keputusan, sebab semalam saya tidak sempat qiyamullail’.. Masa itu, dimana setiap syuro, malamnya qt ‘wajib’ tahajud terlebih dahulu, dan paginya qt wajib tilawah.. Yang jika tidak dilakukan, maka kita lebih baik tidak berbicara atau memberikan pendapat yang dapat menjadi landasan keputusan.. Yang jika diam, maka diam kita dalam syuro tersebut hanya krn berpikir atau berdzikir,, yang jika berbicara maka kita pastikan bahwa itu berdasarkan ilmu dn dengan kndisi ruhiyah yang cukup,, yang jika memutuskan maka hanya hukum-hukum Allah lah landasannya.. Maka, keberkahan syuro menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi dn dharapkn, bukan sekedar berorientasi keputusan semata.. Yang dari tim itulah saya banyak belajar dn meneladani.. Meski di tim2 selanjutnya saya dihadapkan pada ‘zaman’ dn karakter orang yang jauh berbeda,, dan disitulah ujiannya untuk tetap mengaplikasikannya dengan cara yang berbeda..
Saya juga jadi teringat seorang ‘kakak’ yang kata2nya selalu dapat merasuk ke dalam jiwa,, yang jika itu kata-kata semangat, maka selalu ada efek ingin bergerak setelahnya.. Yang jika itu kata-kata nasehat, maka selalu ada rasa patuh pasca dinasehati itu.. Saya memang bukan orang yang mudah untuk kagum, tapi rendah hatinya sungguh menimbulkan kekaguman, juga atas amal dan lakunya.. Sang kakak begitu menginspirasi.. Hingga saya juga sempat berada pada suatu masa, dimana saya akan menolak untuk ‘mengisi’ jika saat itu saya merasa ruhiyah saya sedang tidak ‘cukup’..
‘Ngeruhiy’ saya menyebutnya, saya yakin kekuatan ruhiyah-lah yang dapat membuat beliau seperti itu.. Ah, ruhiyah memang senjata kita,, Memiliki ruhiyah yang kuat rasanya memang masih jauh buat saya,, tapi meski begitu, tidak ada kata menyerah untuk meraihnya.. Karena saya yakin kekuatan ruhiyahlah yang membuat seorang muslim menjadi kuat.. Meski istiqomah itu sulit, mari terus tingkatkan amal yaumih kita..
”Jika sebaik-baik makhluk adalah yang bermanfaat, maka pergunakan waktu untuk kebermanfaatan umat. Berbagilah, agar kebaikan saling mengikat. Erat..”
Posted with WordPress for BlackBerry.