do’a

sebagaimana Musa, yang berdoa:

dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,
(yaitu) Harun saudaraku,
teguhkanlah dengan dia kekuatanku,
dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku,
supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau,
dan banyak mengingat Engkau..

Posted in Uncategorized | 2 Komentar

Belajar dari Christian Wulff

Pagi ini, saya ‘tiba-tiba’ membaca kembali tentang berita pengunduran diri seorang Presiden karena ‘kesalahan’ yang dilakukannya. Dialah Christian Wulff, mantan Presiden Republik Federal Jerman yang mengundurkan diri dari jabatannya pada jumat 17 Februari lalu.

Itulah pilihan yang diambilnya, ia memutuskan meletakkan jabatannya karena dituduh menerima fasilitas berlibur gratis dari jutawan Jerman saat menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Bagian Lower Saxony pada tahun 2008. Selain itu, ada juga kasus kredit rumah yang menimpanya. Presiden Wulff sempat mencoba bertahan atas tekanan pemberitaan yang gencar mengenai tindakan tidak pantas yang dilakukannya itu, beliau bahkan sempat lepas kendali dan mengancam Harian “Bild” yang terus mendesak dirinya untuk mundur. Hingga akhirnya beliau benar-benar mundur pada Jumat lalu.

Elektabilitas publik. Dalam lingkup kecil (kampus) misalnya, seorang calon ketua BEM sebuah kampus tidak hanya harus memiliki kompetensi dan leadership yang baik, tapi ia juga harus memiliki elektabilitas publik yang juga baik. Hal inilah yang disadari seorang Christian Wulff, bahwa ia sudah tidak memiliki elektabilitas publik yang baik karena kasus yang menimpanya saat itu, maka mundur menjadi pilihannya. Seperti yang dikutip Republika Online, Christian Wulff mengatakan dalam pidatonya; “Jerman membutuhkan seorang presiden yang dipercaya bukan hanya oleh mayoritas partai, tetapi oleh mayoritas rakyat secara luas. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan rakyat sudah rusak. Artinya, efektivitas saya pun rusak. Oleh karena itu, saya tidak mungkin menjalankan kantor kepresidenan, baik di dalam atau di luar negeri.”

Satu hal yang saya kagumi dari kisahnya adalah tentang integritas. Mari berkaca pada ‘negarawan’ di negeri kita. Akhir-akhir ini tentu telinga kita familiar dengan berita-berita tentang; ketua ini menjadi tersangka kasus A atau pejabat itu terlibat kasus korupsi B, dst. Tapi lucunya, meski begitu mereka tak jua mundur dari jabatannya. Padahal, jika integritas sudah ‘dipertanyakan’, masihkah jabatan harus dipertahankan? Padahal ada tanggung jawab besar dibalik setiap jabatan, dan itu harus disadari oleh setiap ‘pejabat’ (baca: siapapun yang sedang menjabat, dengan jabatan apapun, di tingkat apapun). Negarawan negeri ini seharusnya belajar dari Christian Wulff tentang hal ini.

Padahal, betapa beratnya amanah sebagai seorang pemimpin, yang kata Rasulullah;

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya…”.

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung.” (Riwayat Imam Bukhori).

“Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

*mari belajar jadi pemimpin yang baik, kawan.. karena segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan kelak.. mari mulai dari lingkup terkecil (pemimpin atas diri).. sebelum kita diamanahi untuk memimpin sesuatu yang lebih besar nantinya.. :)

Posted in Uncategorized | 3 Komentar

“ngeruhiy”

Akhir-akhir ini beberapa kali saya men-share sesuatu lewat email,, meski kadang sekedar reflective sharing atau hanya menshare apapun yang sedang terpikirkan. Saya menjadi ‘suka’ melakukan hal ini karena selain dapat menjadi sarana silaturahim, reaksinya kebanyakan positif.. Suatu saat, seorang kawan membalas sharing note email tersebut dengan jawaban: ”sistaa…makasii yaa udah dikirimin.. Subhanalloh, tulisan yang punya ruh.. Luv u,sistaa..” Jlebb..saya betul2 tersentak pd kata2 ”tulisan yang punya ruh”.. :(

Satu hal yang saya sukai dari blogging atw menshare tulisan adalah, kita gak pernah tau siapa yang akan baca tulisan kita, juga efeknya terhadap mereka.. Kita hanya tinggal menshare apa yang ada di otak dan hati kita, tanpa harus berpikir apakah tulisan kita bagus atau enggak, disukai atau enggak, menginspirasi atau enggak.. Hanya menuliskan apa yang ada di hati dan otak kita, dengan jujur dan sederhana.. Lalu kemudian menjadi hal yang sangat menyenangkan jika tiba2 dapet ‘hadiah’ tak disangka-sangka setelahnya.. Hadiah itu dapat berupa; ketemu orang2 baru, bs bersilaturahim kembali dgn tmn2 yg sdh lama tak berinteraksi, atw tulisan qt dbaca org dn disukai atw menginspirasi.. Smw itu bukan tujuan memang,hanya bonus atw hadiah.. Tp meski begitu, berbagi memang menyenangkan yaa,, apalagi jika ada sisi kebermanfaatannya.. :)

Kemudian saya jadi berpikir.. Bagaimana sebuah tulisan dapat memiliki ruh? Bagaimana caranya? Yang saya tau, efek tulisan bisa berbeda pada setiap orang yang membacanya.. Jadi, jika seorang pembaca dapat merasakan ruh dari sebuah tulisan, apakah itu hanya sebuah kebetulan? Atau ada yang lain?

Yang kata rasulullah; ”ruh-ruh itu ibarat prajurit yang dibariskan,, yang saling mengenal diantaranya akan saling melembut dan menyatu,, yang tidak saling mengenal diantara mereka akan saling berbeda dan berpisah”

Hemm, apapun itu.. Saya hanya yakin bahwa sesuatu yang berasal dari hati akan masuk pula ke dalam hati.. Saya tidak tau apakah saya menulis dari hati atau tidak, saya juga tidak tau menulis dari hati itu yang bagaimana,, yang saya tau, saya hanya menulis saja.. ‘Seada-adanya’..

Dalam konteks yang lain,, saya jadi teringat sebuah ayat di Al-muzammil.. Dimana Allah akan menjadikan ‘berat’ perkataan orang-orang yang terbiasa qiyamullail..

Tiba-tiba pula saya teringat sebuah masa,, masa dimana saya newbie dan banyak belajar.. Dimana saat itu sang korwat sering berkata; ‘saya gak berani berpendapat sebagai landasan keputusan, sebab semalam saya tidak sempat qiyamullail’.. Masa itu, dimana setiap syuro, malamnya qt ‘wajib’ tahajud terlebih dahulu, dan paginya qt wajib tilawah.. Yang jika tidak dilakukan, maka kita lebih baik tidak berbicara atau memberikan pendapat yang dapat menjadi landasan keputusan.. Yang jika diam, maka diam kita dalam syuro tersebut hanya krn berpikir atau berdzikir,, yang jika berbicara maka kita pastikan bahwa itu berdasarkan ilmu dn dengan kndisi ruhiyah yang cukup,, yang jika memutuskan maka hanya hukum-hukum Allah lah landasannya.. Maka, keberkahan syuro menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi dn dharapkn, bukan sekedar berorientasi keputusan semata.. Yang dari tim itulah saya banyak belajar dn meneladani.. Meski di tim2 selanjutnya saya dihadapkan pada ‘zaman’ dn karakter orang yang jauh berbeda,, dan disitulah ujiannya untuk tetap mengaplikasikannya dengan cara yang berbeda..

Saya juga jadi teringat seorang ‘kakak’ yang kata2nya selalu dapat merasuk ke dalam jiwa,, yang jika itu kata-kata semangat, maka selalu ada efek ingin bergerak setelahnya.. Yang jika itu kata-kata nasehat, maka selalu ada rasa patuh pasca dinasehati itu.. Saya memang bukan orang yang mudah untuk kagum, tapi rendah hatinya sungguh menimbulkan kekaguman, juga atas amal dan lakunya.. Sang kakak begitu menginspirasi.. Hingga saya juga sempat berada pada suatu masa, dimana saya akan menolak untuk ‘mengisi’ jika saat itu saya merasa ruhiyah saya sedang tidak ‘cukup’..

‘Ngeruhiy’ saya menyebutnya, saya yakin kekuatan ruhiyah-lah yang dapat membuat beliau seperti itu.. Ah, ruhiyah memang senjata kita,, Memiliki ruhiyah yang kuat rasanya memang masih jauh buat saya,, tapi meski begitu, tidak ada kata menyerah untuk meraihnya.. Karena saya yakin kekuatan ruhiyahlah yang membuat seorang muslim menjadi kuat.. Meski istiqomah itu sulit, mari terus tingkatkan amal yaumih kita.. :)

”Jika sebaik-baik makhluk adalah yang bermanfaat, maka pergunakan waktu untuk kebermanfaatan umat. Berbagilah, agar kebaikan saling mengikat. Erat..”

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted in Uncategorized | 1 Komentar

Absurd

Akhir-akhir ini tentu telinga kita akrab dengan kabar dan berita tentang kasus Nazarudin serta kejadian membingungkan pada saat sidang Nazarudin dengan saksi Angelina Sondakh. Benar atau salah kini makin sulit untuk dibedakan. Kejujuran kini makin sulit ditemukan, terlebih ketulusan dan keikhlasan..

Hingga mereka bilang; ”jika semua ini benar, aku semakin hopeless dengan pemerintah di negeri ini”

Sedang aku? Ah, aku sedih memang,, tapi aku sama sekali tidak hopeless.. Semangat itu masih membara dalam diri ini, keyakinan itu juga masih membuncah dalam dada ini.. Aku yakin kau akan bangkit negeriku..

Aku mencintaimu, dengan cintaku yang masih sederhana, dengan aksiku yang masih minim semampunya..

Maka.. Aku hanya terus berusaha jadi anggota masyarakat yang baik.. Melayakkan diri untuk mendapatkan pemimpin yang baik, bagi negeri ini.. :)

Serta hanya bisa melayangkan doa sepenuh cinta,, Ampuni, rahmati, dan berkahi negeri ini yaa Allah..

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted in Uncategorized | 1 Komentar

comfort vs growth

there is no growth in the comfort zone
and there is no comfort in the growth zone..

terasa begitu memang,, tapi apakah semuanya harus begitu?

bisakah kita membuat comfort zone menjadi growth zone dan growth zone menjadi comfort zone sekaligus???

*hanya ingin bertumbuh.. coz we’re dying if we’re not growing..

Posted in Uncategorized | 3 Komentar

kita kah salah satunya?

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan.
Keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbuatan.
Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat yang rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi figur.
Ada orang punya ilmu tapi tak paham, ada yang paham tapi tak menjalankan.
Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh dan tak tau diri.
Ada orang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.
Lalu di antara semua itu dimana aku berada?
(Imam Ali bin Abi Thalib R.A)

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

beberapa bulan ini

sy namakan ini masa mentreatment hati dan diri,,

aku ingin terus diisi, dengan hal-hal yang positif saja,,
agar pula hanya keluar hal-hal yang positif saja dari diri ini,,
hanya tak ingin disinggahi oleh hal-hal yang dapat menyempitkan hati..

terpaksa meninggalkan yang sebagian untuk optimal di yang sebagiannya..
meski aku sangat rindu dengan yang sebagian aku tinggalkan itu..
memang, hidup ini toh bukan milik diri kita sendiri..
tapi insyaAllah aku kembali lagi.. sebentar lagi..
dengan penuh, tanpa harus menjadikannya sebagian-sebagian..
mengejar apa yang ingin dikejar,, meledakkan apa yang harus diledakkan..
semoga dikuatkan diberkahi.. biidznillah :)

aku hanya telah memutuskan untuk berani mencintai..
dan mencintai dengan berani..
(atas anugerah hidup yang indah ini)

Posted in Uncategorized | 3 Komentar