karena hidup kita bukan milik diri kita sendiri..

Khairukum anfa’uhum linnas..
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain,,
Yang dibalik kesibukan pribadinya masih memikirkan kepentingan orang lain,,
Sambil menyelesaikan masalah hidupnya, masih sempat untuk memperhatikan orang lain,,
Yang dengan segala kekurangannya, masih selalu berpikir untuk memberikan sesuatu kepada orang lain..

Kawan, usiaku saat ini 23 tahun,, usia matang seorang pemuda mungkin..
Berbicara tentang pemuda, aku jadi teringat cerita para pemuda muslim yang mengguncang dunia di usia mudanya.. Aku teringat kisah Sa’ad bin Abi Waqash yang pada usia 16 tahun sudah turut serta dalam perang Uhud, hingga dia tercatat sebagai darah pertama yang mengalir dalam perang itu. Atau Zaid bin Tsabit, seorang muda yang merengek ingin ikut dalam perang Badar, yang kemudian tidak diizinkan oleh Rasulullah karena usianya waktu itu masih 12 tahun. Atau juga kisah Muhammad Al-Fatih, kisah yang melegenda dari seorang pemuda berusia 23 tahun yang telah berhasil menaklukkan negara adidaya saat itu yaitu Konstantinopel, yang kisahnya bahkan sudah diramal oleh Rasulullah dalam haditsnya.. Ah, semangat pemuda itu memang selalu menyala jika mengingat kisah-kisah mereka..

Sedang kini, hey pemuda.. Lihatlah ke sekitar kita, dan.. Mari jujurlah terhadap nurani dan terhadap Rabb kita.. Berapa banyak diantara kita yang masih hidup untuk diri kita sendiri,, yang hanya berpikir tentang dirinya, masa depannya, kebahagiaannya,, hanya dirinya dan keluarganya, atau kelompoknya.. Parameter sederhananya mungkin bisa dilihat dalam setiap aktifitas kita,, apa saja yang kita lakukan dalam 24 jam itu,, sudah optimalkah kita manfaatkan setiap detik yang kita miliki itu? Lalu untuk siapa kesibukan kita itu? Jika seorang suami bekerja seharian hanya untuk istri dan keluarganya, maka ia masih hidup untuk dirinya sendiri.. Jika seorang mahasiswa belajar tekun hanya untuk orangtuanya atau masa depannya, maka ia masih hidup untuk dirinya sendiri.. Atau, bisa kita tanyakan pula pada otak dan hati kita,, apa yang kita pikirkan setiap saatnya? Jika kita masih fokus pada diri kita (memikirkan hari ini dan esok mau makan apa, berpakaian apa, beraktifitas apa, atau galau mengkhawatirkan masa depan, galau mengejar cita-cita diri dan seterusnya), maka kita masih hidup untuk diri kita sendiri.. Itukah yang kita mau? Aku tidak mau kawan! Dan aku yakin begitu juga denganmu kan? :)

Maka, sudahkah kita,, yang dengan potensi dan semangat pemuda ini,, hidup untuk Rabb kita dan berpikir serta berbuat untuk umat ini.. Sudahkah? Kalau kita galau, galau kita untuk siapa? Bukankah Rasulullah juga setiap hari galau.. Beliau galau memikirkan umat.. Sedangkan kita?

Inilah salah satu kewajiban kita terhadap Rabb kita.. Bukankah ”nahnu du’at qobla kulli sya’i”?,, bahwa kita adalah da’i sebelum apapun diri kita sekarang.. Dan itulah konsekuensinya, seorang da’i harus ‘sudah selesai dengan dirinya’, jika ingin dapat berkontribusi lebih bagi umat.. Sebagai perumpamaan,, saya pernah mendapatkan materi ini dalam sebuah ta’lim; Seorang suami yang sholeh, keluar rumah hanya untuk dua hal, mencari nafkah dan berdakwah.. Jika ingin hidup untuk umat dan berkontribusi optimal untuk dakwah, maka ia harus ‘selesai dengan dirinya’, hingga fokusnya tidak lagi pada dirinya pribadi.. Dan idealnya, ia juga harus memiliki istri yang ‘sudah selesai dengan dirinya’ pula.. Sebab jika tidak, ia akan disibukkan untuk ‘mengurus’ istrinya, mendakwahi istrinya lebih banyak daripada berdakwah di lingkup yang lebih luas,, sedangkan umat di luar sana amat membutuhkan..

Maka, karena kita pemuda, dan karena hidup kita bukan milik diri kita sendiri.. Mari bekerja untuk umat, mari berkarya dan bermanfaat.. Mari SEMANGAT! :D

*reflective sharing

Posted with WordPress for BlackBerry.

6 thoughts on “karena hidup kita bukan milik diri kita sendiri..

  1. Entah kenapa, saat mencapai penutup postingan ini, ada dorongan besar untuk berseru, “HIDUP MAHASISWA!” atau “MERDEKA!” atau “ALLAHUAKBAR! HIDUP INDONESIA!” :mrgreen: Teruslah berkontribusi untuk kemajuan, jangan menjadi orang yang hanya bekerja untuk memenuhi dirinya sendiri. Bisa-bisa jadi gendut khan.. gendut akan banyak hal yang belum tentu semuanya baik :D

    Salam,

  2. sampai saat ini saya pun masih terlalu memikirkan diri-sendiri, belum selesai dngan diri-sendiri, masih kurang bermanfaat utk orang lain… tapi saya pun ingin bermanfaat utk orang lain, karena orang sukses itu ketika dirinya mampu memiliki manfaat bagi orang lain. Allahu Akbar! semangat…^^

  3. Tema yang familiar,.
    Menarik, mengingatkan saya sama taujih Ustadz Anis. Terutama tentang menyelesaikan masalah pribadi terlebih dahulu agar bisa berkontribusi menyelesaikan masalah umat secara optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s