rausyanfikr

Buku ini sedang ada di hadapanku sekarang, buku yg tiba2 aku lirik dari lemari perpustakaan di rumah.. buku milik kk, yg berjudul: Ali Syariati – Biografi Politik Intelektual Revolusioner

Cukup tebal bukunya, dan karena itu pula -seperti biasa- tak kubaca selembar demi selembar. Tapi hanya kubaca tema yg menurutku menarik saja :p Aku pernah membacanya sekitar setahun lalu, tapi sepertinya tidak sedalam ini🙂

Hampir satu jam aku membaca bagian demi bagian buku ini, hingga aku sampai pada kesimpulan; beliau orang hebat pada zamannya.. tokoh intelektual muslim yang inspiring,, bapak ideologi revolusi iran yang muncul karena kekuasaan Syah Reza Pahlevi yang penuh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Hingga akhirnya beliau tewas sebelum melihat Iran bebas dari rezim Syah tersebut. Begitulah pahlawan, ia tak selalu harus melihat hasil dari jerih payahnya.

Ada satu pemikiran beliau yang sangat menarik hati saya: tentang Rausyanfikr. Menurut Syariati, rausyanfikr adalah orang yang sadar akan keadaan manusia (human condition) pada masanya, serta setting kesejarahan dan kemasyarakatannya. Rausyanfikr mampu menumbuhkan rasa tangung jawab sosial dan kesadarannya untuk memberi arahan.

Pandangan Syariati tentang rausyanfikr ini berlatar belakang dari ide besar beliau, yaitu Islam sebagai ideologi revolusioner yang bisa dipraktekkan dan membebaskan. Islam menurut Syariati adalah ideologi yang bisa menggerakkan penganutnya untuk melakukan perubahan, menentang penindasan dan mewujudkan tatanan sosial yang adil.

Di samping itu, Syariati menggambarkan rausyanfikr sebagai seorang yang memiliki intelektualitas yang tinggi. Dengan intelektualitasnya yang tinggi tersebut ia terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah dan sekaligus mengambil peran dalam perubahan tersebut.

Intelektualitas yang dimaksud bukanlah terletak pada apakah seseorang itu memiliki ilmu atau tidak, melainkan terletak pada komitmennya pada masalah-masalah kemasyarakatan. Sesorang yang lebih tau akan sesuatu memiliki beban kewajiban yang lebih besar untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat, meneguhkan kebenaran dan meniadakan yang batil. Oleh karena itu, keintelektualannya harus dilihat dari komitmen dan realisasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Kata rausyanfikr berasal bahasa Persia yang artinya “pemikir yang tercerahkan”. Rausyanfikr berbeda dengan ilmuwan. Kalo ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, rausyanfikr memberikan penilaian seharusnya. Kalo ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, rausyanfikr berbicara dengan bahasa kaumnya. Kalo ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, rausyanfikr harus melibatkan diri pada apa yang ia percayai.. Nah, pilih jadi ilmuwan atau rausyanfikr?😀

Ah, kawaann.. semakin kupelajari konsepnya, aku semakin sedih rasanya.. ideal sekali.. sedangkan kita? diri ini? yang mengaku punya semangat perubahan.. kadang terjebak oleh kondisi lingkungan.. atau menyadari ada yang ‘tidak beres’ di sekitar kita tapi hanya sedikit yang dapat diperbuat.. atau bahkan tidak dapat berbuat apa-apa karena kelemahan diri.. *naudzubillah

“Ya Allah..aku berlindung kepadaMu dr kelemahan orang-orang shaleh diantara kami, dan aku berlindung kepadaMu dr kekurangshalehan orang2 kuat diantara kami” (Umar bin Khattab)

One thought on “rausyanfikr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s