tentang intelektualitas kita (kaum hawa)

Helvy Tiana Rosa,, pendiri Forum Lingkar Pena pernah bertanya dalam suatu acara dimana ia menjadi narasumbernya.. “Mengapa seorang RA Kartini lebih terkenal dari para pejuang wanita lain seperti Cut Nyak Dien atau Cut Meutia atau lainnya? Sedangkan dari segi pengorbanan, bukankah para pejuang wanita Aceh itu lebih dahsyat? Bukankah R.A Kartina tidak sampai keluar masuk hutan, berdarah-darah membawa senjata seperti mereka? Lalu kenapa?”

Ada satu hal kawan, satu hal yang dilakukan kartini namun tidak dilakukan oleh yang lainnya.. Karena kartini menulis.. Ia menuliskan pemikiran2nya tentang emansipasi perempuan lewat surat, lalu surat-suratnya itu dibukukan hingga menjadi buku Dari Gelap Terbitlah Terang.. Menulis adalah salah satu cara mengekspresikan ide. Kata Afifah Afra, Bagaimana menilai seseorang memiliki informasi yang mendalam, adalah dilihat dari produk ekspresi ide mereka. Dan menulis, adalah ekspresi ide yang paling cerdas, sistematis, efesien dan awet.” Dan itulah keutamaan Kartini dibanding pejuang perempuan Indonesia lain. Hingga hari kartini menjadi salah satu hari besar nasional di negeri ini.

Lalu ketika pada zaman ini hari kartini diperingati dengan lomba2 kebaya, puteri2an, merias tumpeng, dsb.. Hey,, bukankah ada yang miss dari pemaknaan perjuangan beliau? Bukankah seharusnya semangat penggalian intelektualitas kaum perempuan yang menjadi spirit peringatan hari kartini? Bukankah akan lebih bermanfaat kalau lomba2 itu diganti dengan lomba menulis, lomba pidato, diskusi, masak-memasak, atau yang berkaitan dengan menggali potensi intelektualitas kaum perempuan? Hem, just share..🙂

*****

Sy jadi teringat fenomena lain tentang perempuan, tentang selera perempuan.. berikut saya lampirkan tulisan mbak Afifah Afra yang pernah dimuat di majalah saksi:

Suatu hari, seorang adik binaan mengeluh di depan saya. Ia menceritakan kegagalan sebuah acara bedah buku dimana ia terlibat sebagai salah seorang panitianya. Acara tersebut telah mereka kemas dengan baik, buku yang dibedah juga buku yang cukup bermutu (bertema tentang demokrasi), ditambah kehadiran penulisnya (seorang tokoh nasional) untuk secara langsung membedah buku yang menurut saya juga cukup fenomenal tersebut. Para panitia sangat yakin, jika peserta yang hadir akan meledak dan acara itu sukses besar. Tetapi, apa yang terjadi? Hanya sekitar 40 peserta yang hadir, membuat gedung yang luas itu terasa begitu senyap. Dan dari 40 peserta yang hadir tersebut, hanya 8 orang yang berasal dari kaum Hawa.

Lantas dengan sedikit emosi, adik binaan saya itu membandingkan acara tersebut dengan acara yang sama-sama berbentuk bedah buku, namun buku yang dibedah dalam acara tersebut bertema tentang pernikahan. “Yang datang luar biasa banyak, Mbak…, dan sebagian besar akhwat!” begitu katanya.

Ketika pada suatu hari saya berkesempatan bertemu dengan penulis buku tentang pernikahan itu, kisah tersebut saya ceritakan kepada beliau, dan beliau tertawa. “Kalau saya bikin buku tentang demokrasi, saya akan selipkan dalam tema pernikahan,” ujar beliau. “Misalnya, ‘Pernikahan di Alam Demokrasi,’ atau ‘Sepasang Pengantin Demokrat’.”

Saya ikut tertawa mendengar jawaban beliau yang memang terkenal jenaka itu. Tapi okeylah… kita sedang tidak membicarakan masalah kesukaan para penulis memaparkan idenya dalam bentuk seperti apa. Kita sedang berbicara masalah selera akhwat, selera perempuan.

Saya pernah mengeluh kepada diri saya sendiri, mengapa kami, kaum perempuan seringkali terjebak pada perbincangan yang serba remeh temeh. Serba pragmatis, serba enteng…. Bahkan pada para akhwat (baca: muslimah yang punya komitmen terhadap keislaman), yang nota bene relatif ‘lebih tercerahkan’ dibanding para perempuan pada umumnya, perbincangan ringan yang ‘gurih’ karena penuh dengan berbagai penyedap yang mengandung ‘zat kimia’, ternyata juga menjadi konsumsi harian yang cukup favorit di kalangan para akhwat tersebut. Sebagai contoh, kita dapati akhwat begitu ‘bersemangat’ mengungkit permasalahan-permasalahan kecil seperti pro kontra kerudung pelangi, kasus-kasus merah jambu yang belum jelas kebenarannya, atau bahkan mengomentari seorang ikhwan yang mendadak memakai celana jeans dan mencukur habis jenggotnya.

Kita coba membuat perbandingan lain yang mungkin lebih jelas dengan melihat, betapa sepinya forum-forum diskusi tentang sebuah kebijakan publik, dan betapa riuhnya obrolan sudut mushola yang membicarakan keluarnya sebuah album nasyid baru. Atau betapa senyapnya seberang hijab bagian akhwat ketika berlangsung sebuah rapat tentang grand design sebuah organisasi, sementara bagian ikhwan begitu dinamis.

Sebenarnya apa yang tengah terjadi? Seorang kawan pernah mencoba menjelaskan kepada saya. Akhwat, dalam sisi yang lain adalah seorang perempuan juga, dimana karakteristik perempuan diantaranya adalah: lebih suka hal-hal yang bersifat pragmatis, kurang suka berdialektika dan malas berbincang tentang suatu hal bersifat filosofis. Hal ini, masih menurut kawan saya, terkait dengan perempuan yang memang lebih mengandalkan emosi daripada rasio.

Ah, apa iya? Saya punya banyak teman perempuan yang sangat rasionalis yang hampir sama jumlahnya dengan teman lelaki yang sangat emosional. Teman-teman perempuan saya itulah yang kemudian menjadi team thank di berbagai organisasi, dan mereka sangat cerdas. Ketika saya bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka begitu briliyan, jawaban mereka ternyata bukan sebuah kalimat yang berbelit, cukup sederhana: “saya mencoba terjun di pusaran arus.”

Nah, mungkin disinilah titik permasalahannya. Bias gender telah sangat sukses memarginalkan peran perempuan semarginal-marginalnya. Perempuan tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan penting, tidak pernah dimintai pendapatnya dalam pengambilan sebuah kebijakan. Mereka ada pada sebuah arus, tetapi cukup sebagai penonton di pinggiran. Kejadian semacam itu tak hanya terjadi di masyarakat secara umum, namun juga pada gerakan dakwah yang tengah kita usung bersama. Oleh karena tidak dilibatkan secara aktif dalam keputusan yang strategis, milyaran neuron di rimba enchepalon para akhwat pun tidak termanfaatkan, dan terjadilah apa yang dikatakan oleh Bobby De Porter sebagai “otak yang membersihkan rumahnya.” Kita pun terjebak dalam kejumudan yang berkelanjutan. Kita statis, tak berkembang. Seumpama pisau, otak kita adalah pisau tak terasah yang penuh dengan karat.

Harus diakui, tak biasa berpikir berat membuat akhwat akhirnya tak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Kita suka hal-hal yang ngepop, yang ringan, yang penuh bumbu. Yang membedakan kita dengan para perempuan pada umumnya, barangkali, adalah karena kita sering melakukan aktivitas ‘kerja bakti’ yang membuat kita terlihat sangat sibuk, namun sesungguhnya kita tidak tahu, apa dan untuk apa kita melakukan aktivitas tersebut. (Hiks, kasihan deh, kita….)

Tak bisa tidak, akhirnya dibutuhkan sebuah revolusi pemikiran yang total. Kita, para perempuan, khususnya akhwat harus terjun ke pusat arus. Jika fasilitas untuk menuju pusat arus tidak kita dapatkan, (karena para ikhwan masih belum memahami konsep gender misalnya, afwan… nggak nuduh!), kita bisa berinisiatif dengan membuat arus tersendiri, sepanjang arus itu ikut berperan serta dalam mendukung arus utama agar semakin besar. Sesungguhnya medan dakwah itu begitu luas dan butuh kader yang memiliki banyak inisiatif, dan mewujudkan inisiatif tersebut dalam bukti-bukti yang kongkrit.

Yang harus diingat, usaha kita terjun ke pusat arus, bukan sekadar memperbaiki selera lho….

_Afifah Afra_

Hey, taukah kawan, apa yang terlintas di otakku setelah membaca tulisan ini?.. Ini bukan karena sy yg rasionalnya lebih dominan daripada perasaanya, atau bukan pula karena 4 tahun sy di sospol ya.. tapi, totally saya sepakat dengan tulisannya. Saya jadi flashback, dan jadi ‘ngeh’ kenapa dulu (ketika di kampus) saya tidak bisa ‘dekat dengan semua orang’.. sebentar, sy ralat dikit.. karakter sy dan amanah saya memungkinkan saya untuk mudah dekat dengan siapa saja, tapi (tanpa sy sadar) ternyata sy cukup selektif untuk memilih siapa yg dekat dgn saya..

Saya selalu lebih memilih teman (terutama perempuan) yang ‘seirama’ dengan saya. Saya akan lebih memilih teman yang bisa nyambung dan tek tok untuk saya ajak diskusi apapun, sy akan memilih teman yang obrolannya tak melulu tentang ikhwan, pernikahan (dulu sy belum berpikir kesana,hehe) atau obrolan yg remeh temeh, atau obrolan yang melulu tentang emosi dan perasaan (mungkin saat itu saya berpikir: masih banyak hal penting yang butuh untuk kita pikirkan kawan), saya akan memilih teman yang aktivitasnya cenderung sama (suka bergerak dan selalu berusaha produktif) dibandingkan yang lebih senang di kosan atau nonton tv.. huaahh,, dulu pola pikir saya ideal sekali sepertinya.. Tapi itu bukan berarti saya tak mau berteman dengan yang lain ya.. sekali lagi sebenarnya saya mudah untuk dekat, tetapi tanpa saya sadar saya cukup selektif.. karena hal-hal tadi itu..

Hemm, disaat pasca kampus ini, saya berharap saya tidak berubah.. Meskipun dunianya sudah ‘beda’, dan seringkali saya merindukan dunia dan diri saya yang dulu. Itulah yang membuat saya berupaya untuk tetap berkembang, berusaha ‘mengisi otak’ sebisanya.. berusaha untuk terus membaca, menulis, dan melek berita.. berharap intelektualitas bukan hanya milik kaum adam. Karena seorang ibu yang cerdas dibutuhkan untuk membentuk anak-anak generasi bangsa yang cerdas.. sebagaimana rahim kita yang harus dipersiapkan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat.. (makanya, buat para calon ibu, makan yang bergizi ya..*loh kok jadi kesini ya :D)..
overall, mari kita persiapkan diri kita sebaik2nya..🙂

2 thoughts on “tentang intelektualitas kita (kaum hawa)

  1. hmmmm
    jadi brasa gimannnaaaa gitu mbak baca tulisan ini…
    sekarang mulai banyak kok mbak orang2 yang berani terjun ke pusaran arus…🙂
    setidaknya di lembaga “tempat orang2 pendiam” macam LDK pun sudah mulai banyak yang “terjun”.
    -bagus buat ngaca ni tulisan-

  2. like this ai,,smangat di alhur smoga bisa ditularkan ke temen2 ldf ya,,
    iya aku nulis jg sekalian ngaca ai,hehe,,
    itu waktu inget nasehat temenku yg bilang; ‘apapun kerjaanmu, kamu harus tetep pinter’ (meski aku gak ngerasa pinter juga sih :D),,
    aaaiii,,pengen ngobrol, aktifin gtalk nya yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s