Tentang buku Dua Tangis Ribuan Tawa, Dahlan Iskan

Buku ini berisi kumpulan CEO notes yang ditulis dahlan iskan sewaktu menjabat sebagai CEO PLN.

CEO notes, ditulis dahlan iskan sebagai media komunikasi dengan seluruh karyawan PLN yang berjumlah 50.000 dan tersebar di seluruh Indonesia. Penting memang, untuk menshare pemikiran-pemikiran pimpinan serta kebijakan-kebijakannya, agar semua tubuh organisasi bergerak seirama dengan visi yang sama.. Dan tulisan, memang dapat menjadi media paling efektif untuk menjadikan ‘pesan’ tersampaikan, terlebih untuk organisasi sebesar itu..

Lewat CEO notes ini,
beliau menyindir sekaligus menyemangati,
menegur sekaligus memuji,
tak ada tuduhan, tak ada perintah,
hanya ada semangat, koreksi diri, keinginan menjadi lebih baik dan berbuat lebih banyak..
bagi siapapun yang membacanya..
begitulah ‘komunikasi efektif’ gaya DI..

Kalau versi beliau;
nasihat tapi bukan khotbah,
mau tapi bukan menuruti,
curhat tapi bukan berkeluh kesah,
jengkel tapi bukan marah,
ingin tapi bukan perintah,
pandangan tapi bukan pengarahan,      

 

Sebagai gambaran, berikut di-rewrite bagian yang paling saya suka dari buku ini;

CEO noted #6 : Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ‘baru’ enam bulan. Ada yang bilang ‘sudah’ enam bulan. Betapa relatifnya waktu…

Selama enam bulan itu saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak bisa bekerja kecuali hanya tidur lemas di bilik yang ada di belakang ruang kerja itu. Saya memang harus mewaspadai sakit perut melebihi sakit lainnya. Ini karena sakit perut bisa jadi merupakan tanda awal mulai bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Bisa jadi itu sebagai tanda awal bahwa hatinya orang lain yang sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah sakit perut saya itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplant yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari mulai meninggi, ketika jadwal rapat penting sudah terlanjur dijadwalkan sakit itu sembuh sendiri..

Seingat saya, belum pernah saya absen selama enam bulan di PLN. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: selama enam bulan pertama tidak akan mengurus apapun kecuali listrik, tidak akan pergi kemanapun kecuali urusan listrik. Karena itu kalau biasanya dulu setiap bulan bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini saya tidak ke mana-mana. Bahkan janji saya ke dokter untuk setiap tiga bulan memeriksakan diri ke Tianjin sudah tidak bisa saya laksanakan. Padahal dulu saya selalu disiplin tiap tiga bulan ke sana untuk memeriksakan diri apakah transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu tidak ada masalah. Kini sudah 8 bulan saya tidak memeriksakan diri.

Saya juga harus minta maaf kepada famili, teman dekat dan pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan itu saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan mereka dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi. Saya memang masih tercatat sebagai Ketua Umum. Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk.

Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2. Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran. Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh. Betapa relatifnya jarak..

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulangkarena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya. Betapa relatifnya uang..

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas.

Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.

Yang tidak ada pada mereka adalah muara. Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh..

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang rapat.

Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan. Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. Betapa relatifnya tempat.

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. Betapa relatifnya jiwa.

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di “kursi” direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah membaca surat masuk. Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya.

Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi – sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja. “Mengapa” saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang “tahu” persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi “pidato” kelak hanya bisa “minta petunjuk”.

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah pengecualian. Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama.

Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya. Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya. Betapa relatifnya sebuah kekuasaan..

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan?

Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya tegangan di Cianjur Selatan, ditemukannya cara mengatasi gangguan pohon dengan cara memasang pipa paralon di jaringan yang melintasi rimbunan ranting.. dan sederet daftar yang secara baik dicatat oleh KSPKK.

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit capaian itu. Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL… Betapa relatifnya kepuasan..

Itulah sebabnya, program-program, target-target, capaian-capaian sebaiknya tidak perlu terlalu ditonjol-tonjolkan. Semua itu sebaiknya kita perlakukan sebagai kulminasi dari hal yang lebih sublim: transendentasi jiwa. Kalimat terakhir itu tidak perlu dibaca ulang. Saya juga tidak terlalu mengerti apa yang baru saya tulis itu..

Citra beliau memang sedang baik akhir-akhir ini.. Tapi bukan karena beliau orang media yang paham betul efek dari sebuh tulisan,, bukan juga karena beliau orang media yang sadar betul akan pentingnya peran media dalam mengangkat citra dan juga sebaliknya.. Tapi beliau memang cerdas, beliau pekerja keras, serta memiliki manajemen yang luar biasa.. Maka beliau telah membuktikan pada dunia akan prestasinya..

Dapatkah kita belajar dari beliau, ketika mengazamkan diri mengorbankan banyak hal demi amanahnya: waktu istirahatnya, keluarga, organisasi lain, bahkan kesehatannya..

Dapatkah kita belajar dari beliau, atas keberanian ‘breakin the habit’, think out of the box, memotong birokratisme yang telah lama mengakar dalam tubuh kebanyakan organisasi di negeri ini..

Mampukah kita belajar dari beliau, dengan kesahajaannya membuktikan pada dunia atas prestasi dan capaian2 yang kita peroleh,, bukan hanya untuk sekedar pujian, tapi lebih dari itu untuk sebuah kebermanfaatan bagi umat..

Ah,

Betapa relatifnya waktu..

Betapa relatifnya jarak,,

Betapa relatifnya uang,,

Betapa relatifnya tempat,,

Betapa relatifnya jiwa,,

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan,,

Betapa relatifnya kepuasan,,

Itulah sebabnya, program-program, target-target, capaian-capaian sebaiknya tidak perlu terlalu ditonjol-tonjolkan. Semua itu sebaiknya kita perlakukan sebagai kulminasi dari hal yang lebih sublim: transendentasi jiwa.

Semoga menginspirasi,, silahkan baca lebih lengkap dalam bukunya,,

3 thoughts on “Tentang buku Dua Tangis Ribuan Tawa, Dahlan Iskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s