per-empu-an

April adalah kisah tentang perempuan. Ya, perempuan. Mari mengeja sembilan huruf itu; “per – empu – an” dengan kata dasar empu. Yang belajar sejarah, pasti ingat dengan kata empu. Empu artinya ‘tuan’, orang yang mahir, yang pertama, yang utama, yang hebat, yang sakti, yang diharapkan karya-karyanya.. Ah, benarkah?🙂

Untuk menjawabnya, mari mengeja perannya dgn sebaik-baik nafas; islam. Yang berarti mmposisikan lelaki dan perempuan pada posisi yang seimbang, sebagaimana sepasang sayap atau kedua kaki, keduanya seirama dan saling melengkapi.. Seorang perempuan tetap memiliki kodrat sebagai anak, istri dan ibu.. tapi ia juga memiliki peran sebagai anggota masyarakat.. sebagai entitas dari suatu umat..

Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari penduduk negeri ini adalah perempuan.. Namun jumlah yang banyak itu belum ‘berdaya’ ternyata. Padahal, sebagai entitas dari suatu umat, perempuan memiliki peran penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Bukankah perempuan adalah tiang negara, yang jika dia (perempuan) itu baik, maka baiklah negara itu, tetapi bila perempuan itu rusak maka rusaklah negara itu.. Maka, ‘baik’ dan ‘berdaya’ menjadi suatu hal yang wajib bagi kaum ini.. setuju kah?

Hey, tapi ini bukan tentang feminisme atau emansipasi yang berlebihan.. bukan! Dalam sejarah feminisme, kita menemui kisah penindasan perempuan di masa lampau, kita juga menemui perjuangan kaum feminis melalui parlemen maupun aksinya untuk membela kebebasan kaum perempuan. Mereka berpikir bahwa peran domestik yang dilakukan perempuan menjadikan mereka terhambat, tidak berkembang, dsb. Isu ini pun berkembang di Indonesia yang biasa dikenal dengan emansipasi perempuan dengan RA Kartini sebagai simbolnya. Tapi benarkah ini semua?

Dari gelap terbitlah terang.. kumpulan tulisan dan surat kartini yang dibukukan ini menjadi ‘senjata’ bagi kaum feminis dalam perjuangannya. Tapi seharusnya kita jangan 100% percaya mengingat distorsi sejarah yang dialami negeri ini. Dan ternyata, memang ada yang ditutupi dari kisah Kartini ini. Tak pernah tersampaikan bahwa judul buku ini terinspirasi dari ayat Al-Qur’an ‘minadzhulumati ilannur’, tak pernah dibuka pula tentang pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh, juga tentang Kartini yang mempelajari Al-Qur’an dari beliau serta mengalami transformasi spiritual.. Ya, sejarah kita memang seringkali mengalami distorsi.

Maka, sekali lagi; mari kembalikan peran perempuan dengan sebaik-baik nafas: islam.. Islam menjadikan perempuan sebagai makhluk yang mulia. Ia tidak lagi menjadi obyek yang dapat diperlakukan semena-mena, tapi justru dapat berkembang sepenuhnya, sesuai kodratnya, sesuai kebutuhan zamannya.. Karena ia adalah perempuan; sang peng -empu peradaban.

Untuk perempuan Indonesia; Selamat hari kartini..^^ Selamat berkontribusi bagi negeri.. Selamat menjalankan sebaik-baik peran; mendidik sebaik-baik generasi..

*Tulisan untuk Launching Forum Perempuan IPB, April 2012*

2 thoughts on “per-empu-an

  1. satu yang saya bingung sampai sekarang: mengapa harus kartini ya? hmm..
    selamat hari kartini kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s