euforia kebahagiaan atau pamer kemesraan?

ini sungguh nomention ya,, kita bisa belajar banyak dari mana saja, bahkan dari hal-hal kecil di sekitar kita kan? dan karena usia kita tidak cukup panjang untuk mengalami semuanya sendiri dulu baru kemudian belajar, maka Allah menyediakan kita mata, akal, hati, serta hikmah di sekitar kita yang harus kita petik sebagai pelajaran.. bukan begitu bukan?

saya kadang bingung, dengan beberapa teman yang baru menikah. entah kenapa mereka jadi ‘lebih sering siaran’ di sosial media.. pamer kemesraan kalo kata orang.. sebenernya sih saya yakin seyakin-yakinnya kalau mereka gak bermaksud pamer, hanya euforia kebahagiaan mungkin ya.. atau sebegitu besarnya cinta mereka hingga seluruh dunia harus mengetahuinya? ah, entahlah.. saya belum mengalaminya, jadi saya gak bener-bener tau tentang hal ini. :p

di sisi lain, saya ngeliat gak semua orang yang baru menikah kaya gitu, ada juga yang enggak. maka, saya berkesimpulan bahwa itu sangat tergantung dari orangnya, bukan sekedar efek dari euforia kebahagiaan pasca menikah. gak bisa kita pungkiri bahwa semua orang pasca menikah pasti punya kebahagiaan yang sama, mereka sama-sama bahagia, sama-sama bersyukur, tapi gak semua orang ‘suka siaran’, gak semua orang meng-euforia-kan kebahagiaannya. dan bukan berarti pasangan yang gak pernah pamer di sosmed itu mereka gak bahagia, gak saling sayang, gak romantis atau gak harmonis.. itu sama sekali bukan tolak ukur kan? jadi balik lagi ke tipe orang dan mindset berpikir mereka kali ya..

dan, menurut saya, rasa sayang yang besar itu cukup ditunjukkan dengan laku, juga tak harus disiarkan hingga seluruh dunia tau, cukup disyukuri dengan bukti.. (ah, lagi-lagi.. ini pemikiran seorang saya yang belum menikah, jadi saya gak tau nanti kalau sudah menikah apakah saya justru jadi orang yang suka siaran kemesraan atau enggak, saya juga gak tau suami saya nanti kayak apa.. jadi, cuma bisa berdoa semoga saya tetep dengan pemikiran saya yang kaya gini ya.. kenapa? nah.. saya akan jelaskan berikutnya :D)

ada sebuah kejadian, dan menurut analisis kami (kami adalah orang dekat mereka), ini adalah (kebetulan) salah satu efek kurang baik dari pamer kemesraan / euforia kebahagiaan tadi. sebut saja tiga sahabat A, B, dan C. ketiganya dikenal sholeh. kemudiaan A menikah dan tak lama B juga menikah, namun karena takdir Allah, C belum menikah. kebetulan, A dan B ini adalah orang-orang yang euforia kebahagiaan pasca menikahnya cukup tinggi, mereka sering ‘siaran kemesraan’ dengan pasangannya di sosmed, A dan B juga sering mengompor-ngompori C untuk segera menikah. C memang ingin menikah segera, tapi ia punya alasan dan kondisinya sendiri sehingga belum bisa menikah dalam waktu dekat. ditengah keterdesakan dan ujiannya itu, C yang sebelumnya dikenal ‘anti pacaran sebelum menikah’ itu akhirnya ‘sangat dekat dengan seorang perempuan sebelum ia menikah’ (entah apa menyebutnya.. meski kami tetap yakin C itu tetap sholeh, beliau gak akan melakukan hal-hal aneh, dan kami juga berdoa semoga mereka segera menikah). cerita selesai.

dari kisah di atas kita bisa belajar bahwa setiap orang punya ujiannya sendiri, punya godaannya sendiri, dan setiap orang termasuk saya, bisa saja terjatuh di batas ketangguhannya.. dan, saya tiba-tiba menemukan notes k. nazrul anwar yang pas banget dengan apa yang sedang saya pikirkan ini..;

“Putri bener, kalau kita harus menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai niat baik untuk mengingatkan orang lain agar segera menikah, malah membuat orang yang diingatkan merasa enggak nyaman, merasa enggak tenang, serta berpikiran dan berprasangka yang enggak-enggak. Emang sudah berapa ribu orang sih yang berhasil diingatkan dengan cara seperti itu. Disindir kapan nikahnya, kapan mau nyusul atau berbagai bentuk sindiran lainnya; yang ada malah semakin membebani orang yang bersangkutan. Apalagi kalau perempuan, yang kebanyakan punya tingkat sensitivitas yang lebih dari rata-rata. Apalagi kalau usianya sudah lewat 25 gitu, pasti banyak yang sedang gelisah untuk urusan jodoh ini. Makanya, harus dijaga perasaannya. Doa tulus di akhir malam tanpa sepengetahun mereka, mungkin jauh lebih efektif dan konkrit untuk membantu dan menolong mereka untuk segera menikah. Bukan dengan sindiran atau pembicaraan yang sebenarnya enggak konkrit-konkrit banget. Malah efek buruknya yang lebih banyak.”

“Lagi pula menjaga hati dan perasaan itu enggak gampang loh. Harusnya yang sudah menikah bisa menghargai orang yang belum menikah, karena mereka masih berjuang untuk mengendalikan hawa nafsunya, untuk mengontrol hati dan perasaannya, untuk menghindari perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh agama. Dan mereka masih bisa menjaganya. Belum tentu juga kan, bagi yang sudah menikah kalau berada pada kondisi yang belum menikah tadi, bisa bertahan lebih lama dengan kondisi

“Gini, mereka hanya sedang berbagi bahagia dengan cara yang berbeda. Mereka sudah merasakan bahagia dan indahnya pernikahan. Makanya mereka juga ingin, sahabat-sahabatnya, saudara-saudarinya segera merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Salah satu caranya, ya dengan ‘mengkampanyekan’ cepet-cepet nikah gitu, memotivasi agar yang lain juga mengikuti jejak mereka yang sudah nikah dan bahagia dengan kehidupan baru bersama keluarga kecilnya. Dan menikah itu baik kan? Sedangkan, mengajak dan mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik adalah bentuk kebaikan yang lainnya. Harusnya kita bisa menghargai usaha mereka, bersyukur diberikan saudara-saudari seperti mereka; yang mau mengingatkan, memotivasi dan berbagi kebahagiaan.”

(sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=269255659778998)

ah, saya sepakat sekali.. intinya.. mari dewasa dalam berpikir.. kita yang belum menikah harus lebih banyak husnudzhon, bahwa mereka hanya sedang berbagi kebahagiaan dan memotivasi yang lain untuk juga segera menikah. tapi, bagi yang sudah menikah, seharusnya harus lebih bisa berempati, menganalisis efek baik-buruknya terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, lebih bijak dalam bertindak, menahan diri untuk tidak siaran jika itu akan berefek buruk, dsb..

ya, semoga bisa diambil hikmahnya..^^
lagi-lagi.. #nomention😀

3 thoughts on “euforia kebahagiaan atau pamer kemesraan?

  1. saya liat poinnya lebih kepada desakan untuk cepet menikah,
    orang punya kondisi masing-masing, desakan yang terus menerus bisa malah kontra produktif.

  2. pasca dipublish, tulisan ini ditanggapi beragam.. ada yg suka, ada jg yg protes.. gak masalah sih ya, free interpretation ko.. just be wise guys.. :)) *si penulis gak bermaksud apapun ko..cuma menuangkan yg ada di otak aja..

  3. Halo, Nova. ^^

    Salam kenal. ^^

    Masalah “pamer kemesraan” itu sensitif banget deh kayaknya ya. Sampe-sampe sebenernya kita gak bisa menghitung efeknya ke tiap orang dengan cara yang sama. Misalnya aja saya pernah punya pengalaman menegur salah seorang teman yang pamer kemesraan paska menikahnya (menurut saya) sudah di luar batas. Bukan hanya sayang-sayangan doang, tapi urusan kontak fisik pun disiarkan tiap kali kejadian. Kalo mereka dari awal memang bukan orang sholeh sih gapapa. Ini, yang cowok (sama kayak cerita di atas) tipe ogah pacaran sebelum nikah. Mereka nikahnya pun gak pake pacaran. -________-”

    Yang ada malah saya dimaki-maki dan dibilang cemburu karena pernikahan saya tidak sebahagia pernikahan mereka. Setelah kasus itu, akhirnya saja jadi agak masa bodo sama teman-teman yang pamer kemesraan. Kalo di twitter, unfollow aja. Kalo di Facebook, hide aja statusnya. Abisnya, kayaknya kalo ditegor malah bisa jadi masalah. Jadi yaaaa … sekarang saya tinggal menunggu masa pamer kemesraan itu kadaluarsa. Misalnya, setelah 3-4 bulan pernikahan.😀 Q

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s