share; sekitar ramadhan dan idul fitri

dear guys, ramadhan kini sudah berlalu, namun semoga bekasnya tak ikut segera pergi. semoga bekas tilawah kita, bekas sujud kita, bekas shaum kita tak lekas pergi ditelan riuh gembira idul fitri.. karena yang lulus ramadhannya adalah ia yang masih menjaga amal yaumihnya sebagaimana ketika ramadhan kan?.. selamat merindukan ramadhan kembali kalau begitu.. ^^

btw, kali ini hanya ingin share tentang 3 hal terkait ramadhan dan idul fitri yang seringkali salah diaplikasikan.. dikutip dari berbagai sumber.. cmiiw yaa😉

1. Doa Buka Puasa yang lebih shahih

sejak kecil tentu kita familiar dengan doa buka puasa ini yang juga seringkali ditayangkan di televisi ketika waktu berbuka puasa, “Allahumma lakasumtu wabika amantu wa’ala rizqika aftortu birohmatika yaa arhamarrohimin” yang artinya “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, denganMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka, dengan rahmatMu Ya Allah yang Maha Pengasih”. doa ini biasa dibaca sebelum kita berbuka.

kalau kita telusuri haditsnya, doa ini berasal dari hadits sbb:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa, dan atas Rizki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Dawud dari Mu’adz bin Zuhrah, no. 2011 dari Maktabah Syamilah. Ibnu Sunni juga mengeluarkannya dalam kitabnya “Amalul Yaumi wal Lailah” dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu no:481, dan Abu Dawud no: 2358 dan dalam sanadnya ada Abdul Malik bin Harun bin Antarah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan Ad-Daruquthni. Dan beliau berkata: Yahya berkata: demikianlah dia. Abu Hatim berkata: dia matruk (ditinggalkan). Ibnu Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad 2/51: hadits ini tidak benar)

hadits ini ternyata dhaif sodara-sodarah.. so, adakah hadits doa berbuka puasa yang lebih shahih?

Hadits Aisyah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila seorang kalian ingin makan, hendaknya dia membaca “bismillah”.” (HR. al Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1513)

dan jika dahaga telah hilang, keringnya tenggorokan telah basah dengan air, dan terasa nikmatnya berbuka, baru berdoa:

 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ 

Dzahaba dzoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaAllah
Telah hilang rasa dahaga, dan dan telah basah kerongkongan, serta telah tetap pahala insya Allah.

doa di atas based on hadits Ibnu ‘Umar yang mengatakan; “Adalah Rasulullah apabila berbuka beliau berdoa “dzahaba dzoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaAllah” (HR. Abu Dawud no. 2357, al-Daruquthni, no. 2242. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, no. 2066 menghukuminya sebagai hadits hasan, al-Imam al-Daruquthni mengatakan: Isnadnya hasan, Al-Hakim mengatakan: Ini hadits shahih, dan Al-Hafidz Ibnul Hajar mengatakan: Ini hadits hasan).

so, karena hadits ini derajatnya lebih baik, saya biasanya pakai doa yang ini. jadi, doa banyak-banyak menjelang waktu berbuka, kemudian membaca bismillah sebelum berbuka, berbuka, lalu membaca doa tsb..🙂 (cmiiw)

2. Nuzulul Qur’an bukan pada 17 Ramadhan

iya, nuzulul qur’an (hari diturunkannya al-qur’an) belum tentu 17 ramadhan loh.. check this out;

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 1-5)

Haa Miim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad-Dukhan (44): 1-3)

Ah, ya.. dari dua ayat dia atas, semakin jelas bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan, yang lebih baik dari seribu bulan, pada malam yang diberkahi. Itulah malam lailatul qadar.. Nah, berarti Nuzulul Qur’an = Lailatul Qadar kan? sedangkan seperti yang kita tahu, lailatul qadar belum tentu pada 17 Ramadhan..🙂 (cmiiw)

3. Minal aidin wal faizin bukan = Mohon maaf lahir batin

satu hal lagi yang seringkali salah dalam aplikasi, yaitu pengucapan minal aidin wal faizin yang seringkali dianggap sama dengan mohon maaf lahir dan batin. padahal, arti kalimat ini adalah “dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang“. tak lengkap bukan? maka, sebaiknya ditambahkan ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). jadi kalimat yang lengkap sbb: ja’alanallaahu minal ‘aidin wal faizin (semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali kepada ketaqwaan/kesucian dan orang-orang yang menang).

fyi, para sahabat biasa mengucapkan kalimat taqobalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka. arti kalimat ini adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima.

sekali lagi, sekedar share.. tolong dikoreksi jika ada yang salah.. mari terus belajar, agar setiap yang kita lakukan based on ilmu.. karena itulah al-fahmu lebih dulu dari pada al-amal, kan?..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s