Hudaibiyah, Ummu Salamah..

“Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah engkau kemarin ada di sisi, dan esok tiada lagi.”
(Tasaro GK – Muhammad: Para Pengeja Hujan)

So.. Hey, mari kita ‘nyiroh’ lagii!!😀

Kali ini, mari kita mengimaji kembali peristiwa pasca Perjanjian Hudaibiyah ini. Fyi, ini salah satu bagian favorit saya (dari banyak bagian favorit lain), sekaligus mengenang salah satu shohabiyah favorit pula (selain Khadijah, dll); Ummu Salamah.. Sang ningrat – aristokrat nan cerdas dari Bani Makhzhum yang sempat merasakan perjuangan membersamai Rasulullah saw sang manusia mulia..

*****

Rasulullah murung, masuk ke dalam tenda Ummu Salamah. Sebabnya, para sahabat begitu kecewa atas hasil perjanjian Hudaibiyah yang mereka pikir merugikan Umat Islam. Saking kecewanya, para sahabat tak mengindahi perintah Rasulullah untuk menyembelih hewan qurban dan bercukur rambut meski Rasulullah telah mengulangi perintahnya itu sebanyak 3 kali..

“Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?” (Kata Umar ditengah protesnya kepada Rasulullah)

Sedang Rasulullah saw hanya menjawab; “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”

Umar sungguh tak puas dengan jawaban itu. Para sahabat masih kecewa dan protes.. Hingga Rasulullah meninggalkan mereka dan menemui Ummu Salamah di dalam tenda.. Ah, kawan.. dapatkah kau membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah atas hal ini semua? Lalu apa yang dikatakan Ummu Salamah saat melihat suaminya yang begitu mulia ini menghampirinya dengan wajah murung?

Dia berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin para sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah, dan jangan berbicara dengan siapapun sebelum engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu.”

Ah, cerdas sekali bukan?! saya begitu terkesan dengan momen ini. Pertama, Ummu Salamah begitu mengerti perasaan Rasulullah, namun ia tak larut dalam sedihnya Rasulullah, justru ia memberikan saran kepada suaminya ini dengan begitu elegannya. Kedua, Ummu Salamah yang memang cerdas memulai sarannya dengan sebuah tanya, yang memungkinkan Rasulullah untuk berpikir sejenak. Ummu Salamah tahu benar, bahwa Rasulullah dalam kondisi psikologis yang siap mengubah sikapnya jika disampaikan nasehat yang memang lebih benar. Dan ketiga, sungguh betapa besar hatinya Rasulullah, betapa ‘openmind’-nya,, saran dari istrinya yang memang solutif ini pun segera beliau laksanakan.

Dan apa yang terjadi setelah ini? para sahabat yang melihat Rasulullah pun bersegera mengikutinya dengan meyembelih qurban dan mencukur rambut-rambut mereka. Dan akibat dari saran Ummu Salamah inilah para sahabat selamat dari ‘bermaksiat kepada nabi’, dan Perjanjian Hudaibiyah ini pun berakhir dengan Futuh Mekkah.. AllahuAkbar!! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s