Zakat, Lifestyle, Latte Factor

otak saya siang ini sungguh random.. awalnya terpikir untuk nulis tentang mengembangkan zakat as our lifestyle, eh tapi ujung-ujungnya malah kepikiran our lifestyle secara luas, termasuk latte factor sebagai salah satu solusi dari lifestyle yang boros.

berbicara lifestyle, setiap orang pasti memiliki lifestyle yang berbeda. hal ini bukan melulu soal banyak uang atau kurang uang, tapi juga berbagai hal yang mempengaruhi seseorang sehingga memiliki gaya hidup tertentu; value, lingkungan, teman, pola makan, dll. kalau kata teman saya; ini bukan soal gaji besar atau kecil yang membuat kita merasa cukup atau kurang, tapi lebih tentang gaya hidup.

lifestyle juga melingkup banyak hal, termasuk zakat. ah, kawan.. ternyata, masih banyak PR untuk menjadikan rukun islam yang ketiga ini dapat menjadi lifestyle bagi setiap muslim di negeri ini. masih perlu banyak langkah, untuk menjadikan zakat diaplikasikan dengan benar sesuai aturannya. masih perlu banyak upaya, untuk menyadarkan kita semua bahwa zakat sama dengan sholat. bahwa zakat bukan sekedar zakat fitrah. bahwa zakat berbeda dengan infak-sedekah. bahwa zakat, punya aturannya sendiri yang sudah tertulis langsung dalam kitab suci kita. bahwa pengelolaan zakat, bukan filantropi biasa yang dapat dikelola siapa saja. dan bahwa zakat, seharusnya sudah terpatri betul dalam diri setiap muslim sebagai salah satu lifestyle mereka.

sekali lagi, lifestyle dapat menjadi salah satu aspek penting bagi kehidupan seseorang. ia bukan soal banyak uang atau kurang uang. sebagaimana kecukupan atau kekurangan bukan soal gaji besar atau kecil. maka semoga, pengaruh hedonis yang begitu besar dari luar sana tidak merasuk perlahan dalam diri kita, sebesar apapun penghasilan kita saat ini dan nanti. lihatlah, berapa banyak diantara kita yang memiliki gaji besar namun masih terus merasa kurang karena lifestyle-nya, namun banyak juga diantara kita yang memiliki penghasilan yang lebih sedikit namun segala kebutuhan hidupnya tercukupi karena lifestyle-nya pula. betapa pentingnya. dan satu lagi, keberkahan atas rizki yang mereka dapatkan juga menjadi salah satu penentu kecukupan dan keberlimpahan mereka. maka menurut saya, bagi setiap muslim menjadi kaya itu wajib, tapi mewah adalah pilihan.

ada satu hal yang baru-baru ini saya pelajari untuk mengatasi atau menghindari pemborosan, atau untuk pengiritan nasional kalo bahasa saya, ialah Latte Factor. Istilah latte factor pertama kali diperkenalkan oleh David Bach (penulis buku mengenai personal finance).  istilah ini diambil dari kebiasaan orang Amerika yang setiap pagi sebelum berangkat ke kantor selalu mampir ke stur*u** dulu untuk beli kopi. padahal, kalau kebiasaan ini dikurangi / dihilangkan / dicari alternatifnya, maka akan ada pengiritan besar-besaran pada keuangan orang tersebut, bahkan dapat membuat kaya. ish, mantap kan? *wink*

latte factor ini, bisa berbeda tiap orangnya. intinya, biasanya tiap orang punya pengeluaran kecil yang dikeluarkan sehari-hari yang biasanya keluar dari dompet kita tanpa terasa, misalnya minuman botol, permen, coklat, koran, cd, rokok, majalah, kopi, gorengan, atau apapun yang rutin kita ‘jajan’-kan. nah, hal ini gak akan kerasa kalau kita gak pernah mencatat pengeluaran kita. coba deh buat catatan keuangan pribadi, dari sana akan ketauan latte factor kita apa dan berapa cost yang kita keluarkan untuk itu. nah, berhubung saya juga lagi belajar untuk pengiritan nasional, mari kita sama-sama memperhatikan hal satu ini, dimulai dari memperhatikan latte factor kita dan menguranginya pelan-pelan, sampai hilang suatu sat nanti. dan kemudian kita sadar bahwa kita telah menjadi kaya karena itu.. (haha, yang ini agak berlebihan :p)

hey, tapi tahukah? bahwa latte factor tak hanya berbentuk materi, tapi ia bisa juga terkait manajemen waktu misalnya. sikap lelet atau pelupa juga dapat menjadi salah satu latte factor buat seseorang. karena biasanya akibat sifat ini, seseorang kehilangan waktu berharganya meski sedikit demi sedikit. gak percaya? lihat saja berapa banyak waktu yang dihabiskan sang pelupa untuk mencari barang yang sangat dibutuhkannya pada waktu itu, yang seharusnya tak perlu ia lakukan jika ia tak lupa. ah sudahlah, bagian ini sungguh menyindir diri saya sendiri :p. intinya, apapun latte factor kita, mari belajar kita hilangkan, minimal kita minimalisir atau siasati.. demi kualitas hidup yang lebih baik.. selamat belajar.. ^^

One thought on “Zakat, Lifestyle, Latte Factor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s