Antara Singgalang – Marapi ; Catatan Perjalanan #2

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” — Qaaf: 6-9

Picture 204

Akhirnya, saya menulis catatan perjalanan lagi, setelah berhasil mengenyahkan segala kemalasan dan sebuah alasan klasik; tak sempat! (haiyah.. lebai :p). Tapi, begitulah nyatanya kawan, hal kaya gini udah berulang beberapa kali setiap saya berkesempatan mengunjungi tempat yang indah. Waktu ke Bali, di sana saya berkali ngomong sama diri sendiri kalo pasca itu akan menuliskan catatan perjalanan di blog, tapi nyatanya tak juga saya tulis sampe sekarang. Kemudian berulang waktu saya ke Yogyakarta. Hehe.. karena buat saya, keindahan alam itu emang paling oke buat dilihat puas-puas, dinikmati sepenuhnya, lalu dilesapkan dalam hati. Rasanya itu jauh lebih indah daripada mengabadikannya lewat kamera. Tapi argumen saya ini akhirnya terpatahkan juga di trip kali ini..😀

Alhamdulillah, pertengahan Februari lalu diberi kesempatan merasakan trip ke Sumatera Barat. Mata saya sudah dimanjakan sejak menginjakkan kaki pertama kali. Keluar pintu bandara Minangkabau, saya langsung disambut oleh udara yang sejuk dan barisan bukit nan hijau. Yang menyadarkan saya bahwa saya sedang menginjakkan kaki di tanah yang dikepung Bukit Barisan dan Gunung. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. tak henti hati saya bersyukur atas kenikmatan yang satu ini.. karena saya cinta banget sama pegunungan dan suasana yang kaya gini..🙂

Selain kesan pegunungan yang damai tadi, ada satu kesan lagi yang saya suka dari Tanah Minang ini, yaitu kesan religius. Pernah suatu waktu saya mampir ke warung, di depan warung saya menemui seorang ibu berjilbab yang sedang membaca buku agama, saya taunya karena ada banyak tulisan arab berupa ayat qur’an atau hadits di bukunya.. Dan, begitulah.. masyarakat Minangkabau ini memang memiliki sebuah way of life, yaitu ; “Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah” yang artinya kurang lebih “adat berdasarkan syara’ (agama), agama berdasarkan pada kitabullah (al-qur’an)”. Gak heran lah ya, kalo kesan religius menempel pada orang-orang di tanah Minang ini.

Baiklah, kita mulai.. Tempat indah pertama yang saya kunjungi ini adalah Pantai Padang. Sebenernya, ke sini hanya sekedar mampir setelah dari BAZNAS Propinsi Sumbar menuju Lembah Anai. Tapi meski sekedar mampir, ternyata indahnya gak kalah sama tujuan utama. Meski pantainya kurang bersih menurut saya, pasir putihnya tetep cakep, dan langit biru serta awan putih membuat mata saya gak bosen-bosen memandanginya.. cekidot ya..🙂

moto awan

moto awan

Picture 050

Beautiful sky!

Picture 049

Pesisir Pantai

Picture 067

Pantai Padang

Picture 074

Langit Biru.. Awan Putih..

Perjalanan hari pertama kemudian dilanjutkan ke Lembah Anai.. Wow, ini beneran lembah sodara-sodarah.. #norak :p Lembah Anai ini terletak di Padang Panjang, sepanjang perjalanan Kota Padang menuju Bukut Tinggi kita akan menemukan barisan tebing curam nan cantik yang di tengahnya terdapat air terjun. Air terjun ini ada di pinggir jalan, yang jika kita menyusuri perjalanan dari Bandara Minangkabau ke Bukit Tinggi, pasti akan melewatinya dan dapat menyaksikan keindahan air terjun Lembah Anai ini dari mobil/bus yang kita naiki. Ah, kawan.. jika kau lewat sini, sempatilah mampir meski sejenak, meski hanya sekedar numpang bernafas ditengah padatnya aktivitas, sambil menatapi paduan tebing, pepohonan, dan air terjun yang sungguh cantik. Dan, tetiba saya inget novel “Dibawah Lindungan Ka’bah”, di novel ini Buya Hamka menjadikan Lembah Anai dan Padang Panjang sebagai salah satu romantisme dalam novel tersebut.😀 Dari lembah anai ini kita dapat melihat rel kereta layang yang konon bukan peninggalan Belanda, tapi dibangun oleh tangan anak negeri. Berikut di-share foto-fotonya ya..🙂

Air Terjun Lembah Anai

Picture 095

Berasa di Kayangan :p

http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg

Rel Kereta Layang Karya Anak Negeri🙂

Next destination, Istana Pagaruyung atau biasa disebut juga Istano Basa. Istana Pagaruyung yang terletak di Batu Sangkar, Tanah Datar ini merupakan peninggalan kerajaan Pagaruyung, kerajaan Melayu – Islam yang konon runtuh akibat Perang Padri. Dan ternyata, Istana Pagaruyung yang biasa dikunjungi sebagai tujuan wisata ini hanya replika dari yang asli, kawan.. Sebab Istana yang asli telah musnah terbakar sejak tahun 1800-an. Hingga kemudian kembali dibangun replikanya pada tahun 1970-an (yang kemudian juga terbakar), lalu dibangun kembali di tahun 2007 yang alhamdulillah bertahan hingga kini. Cantik memang, tapi setelah saya menemukan foto Istana yang asli, ternyata jauh lebih cantik. Foto istana asli ini, kalau menurut saya, ada kesan eksotis dan menyisakan kesan sejarah yang lebih dalam (haiyah :p)..

Istana Baso.. Megaaahh :)

Istana Baso.. Megaaahh🙂

Diantara Bebukitan

Diantara Bebukitan

Istana Pagaruyung Asli

Istana Pagaruyung Asli

Selanjutnya, Danau Singkarak, Jam Gadang, Ngarai Sianok.. Ini berhubung sayanya cape ngetik ya sodara-sodarah.. jadi saya share foto-fotonya aja kali ya.. Yang belum berkesempatan kesana, semoga dikasih kesempatan.. Cantik, sungguh🙂

Jam Gadang

Jam Gadang

Danau Singkarak

Danau Singkarak

Mari menyusur danau!

Mari menyusur danau

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Singgalang atau Marapi ya? :D

Singgalang atau Marapi ya?😀

di Pemataaangg *singing

di Pemataaangg *singing

view dr hotel.. cakep! :)

view dr hotel.. cakep!🙂

masha Allah..

masha Allah..

ada yg tau ini bunga apa? sy gak tau :)

ada yg tau ini bunga apa? sy gak tau🙂

Jembatan Rel Kereta

Jembatan Rel Kereta

Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah2 luas, lereng2 gunung. Datangilah padang2 rumput, padang2 pasir. Lihatlah kota2 gemerlap, desa2 damai tenteram.

Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto2 keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’.

(Tere Liye)

6 thoughts on “Antara Singgalang – Marapi ; Catatan Perjalanan #2

  1. “Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah2 luas, lereng2 gunung. Datangilah padang2 rumput, padang2 pasir. Lihatlah kota2 gemerlap, desa2 damai tenteram.

    Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto2 keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’.”.

    Kalo boleh tau, ini karya Tere Liye yang judulnya apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s