how’s marriage life?

“How’s marriage life?”
(Ireka Arsyidah Qurniaty)

Sedikit tercenung membaca pesan di line dari seorang teman lama; lama tak berjumpa, lama tak berkomunikasi. Namun ingatan ini tentu tak pernah amnesia atas kebersamaan kami di suatu masa -sekitar 9 tahunan lalu. Sebagaimana atas ucapan dan doa dari teman-teman yang lain, ucapan dan doamu sungguh berarti buatku, kawan..🙂

Lalu bagaimana saya harus menjawab pertanyaan itu? Entahlah, saya hanya bisa bilang kalau pasca menikah saya selalu merasa blessing dan grateful, itu saja.🙂 Sejak awal saya memang tak ingin bereuforia berlebihan atas kebahagiaan pasca menikah ini, semua orang rasanya sudah tahu kalo setiap pengantin baru pasti berbahagia, jadi tak perlu saya kasih tahu lagi kan.. hihii.

“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu” (Tere Liye)

Sebelum menikah, saya sempat merasa belum siap untuk dijajah dibagi hidupnya. *abis ini dijitak si kk*😛  Tapi rasanya semuanya memang berjalan begitu saja.. begitu cepat. tetiba merasa deg-deg-an sebelum akad, tetiba merasa lega pasca moment yang mengguncang arasy itu, tetiba merasa bersyukur telah melewati resepsi yang alhamdulillah berjalan lancar, berbahagia menerima ucapan dan doa dari para kerabat yang datang maupun yang mendoakan dari jauh, lalu tetiba pula menjalani kehidupan sebagai seorang seorang istri. whatt?? istri?! *pingsan*

Rasanya, bekal saya untuk mengemban status diatas belum juga cukup, meski telah mempersiapkan diri sejak beberapa tahun lalu. meski belajar juga terus saya upayakan hingga kini dan nanti. Tapi memang betul, seseorang pernah berkata bahwa kita tak harus sudah merasa siap 100% dulu baru kita memutuskan untuk menikah, sebab pembelajaran untuk menjadi seorang istri yang baik memang harus dilakukan terus-menerus, dan lebih baik dengan prakteknya langsung. Sebagaimana rasa cinta dan kemampuan mencintai yang harus terus ditumbuhkan, ilmu kita pun harus terus ditambah seiring berjalannya usia dan bergantinya peran diri dalam setiap fase kehidupan kita.

Takdir Allah tentang bertemunya dua manusia dalam pernikahan memang selalu menakjubkan. Sebab memang hanya dengan landasan pernikahan lah cinta antara dua jenis manusia ini boleh bermuara. Sudah begitu banyak orang-orang yang mengaku saling mencinta, berpacaran lama, namun Allah tak menakdirkan mereka bersama dalam pernikahan. Banyak pula dua insan yang belum mengenal lama tapi Allah takdirkan hidup bersama dalam pernikahan dan berbahagia hingga mereka menua. Setiap takdir kita memang tak selalu sama. Namun semoga Allah membimbing kita selalu untuk mengambil sebaik-baik jalan dan cara untuk setiap fase hidup kita, termasuk fase pernikahan ini. Semoga pula dengan begitu keberkahan serta rahmat selalu Allah berikan kepada kita semua.

So far.. saya masih enjoy menjalani kehidupan baru saya ini. Belum banyak perubahan berarti selain saya yang sendiri sekarang jadi berdua. Punya partner dalam menjalani segala sesuatu dalam hidup saya. Punya sahabat-saudara-imam terbaik yang semoga kekal sampai nanti. Punya imam sholat tetap. Punya “teman berbincang apa saja” tetap. Punya driver tetap *eh😛

Dan lagi-lagi.. doa kalian untuk kami sangat berarti.. mohon doanya ya kawan.. mohon dimaafkan pula jika saya -kami pernah punya salah atau khilaf ya..🙂

*****

*Jodoh terbaik

Ada seorang atlet dunia yang mengagumkan–masih hidup, dan masih terus mengejar rekor2nya. Saat ditanya, apa rahasia terbesarnya hingga dia berkali-kali memecahkan rekor dunia? Jawabannya pendek: saya bertanding melawan diri sendiri, saya berusaha terus menerus mengalahkan diri sendiri. Meski amat simpel, tapi ini sesungguhnya jawaban yang super, menjelaskan banyak hal. Tetapi hei, bagaimana bisa dia jadi juara dunia jika dia hanya sibuk melawan dirinya sendiri? Bukankah dia harus peduli dengan catatan waktu pesaingnya? Bagaimana pesaingnya berlatih? Kemajuan pesaingnya.

Tidak, dia tidak peduli.

Baginya, setiap hari menjadi lebih baik, setiap hari memperbaiki rekor sendiri, jauh lebih penting dibanding memikirkan orang lain. Maka itulah yang terjadi, resep ini berhasil, berkali-kali dunia menyaksikan atlet hebat ini memecahkan rekor dunia, rekor yang tercatat atas nama dirinya sendiri. Jika dia hanya sibuk memikirkan orang lain, pesaingnya, boleh jadi dia hanya berhasil memecahkan rekor itu sekali, lantas berpuas diri, merasa cukup. Game over.

Logika memperbaiki diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik ini sangat efektif dalam banyak hal. Sekolah misalnya. Kita tidak perlu peduli kita ranking berapa, kita lulusan terbaik atau bukan, sekolah terbaik atau bukan, pokoknya belajar yang terbaik, maka lihat saja besok lusa, ternyata semua hal datang dengan sendirinya, termasuk ranking dan kesempatan melanjutkan di tempat lebih baik. Juga pekerjaan. Kita tidak perlu peduli siapa pesaing di sekitar, siapa yang akan menyalip dsbgnya, posisi dsbgnya, pokoknya bekerjalah yang terbaik, memperbaiki diri sendiri secara terus menerus. Maka, lihat saja besok lusa, semua pintu2 kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.

Nah, termasuk mencari jodoh. Rumus ini juga berlaku sama sederhananya. Teruslah memperbaiki diri, maka besok lusa, jodoh terbaik akan datang.

Banyak orang yang berpikir sebaliknya, sibuk pacaran, sibuk cari2 perhatian, sibuk jatuh hati, sibuk ‘mencari jodoh’–di usia dini sekali. Itu benar, kita boleh jadi segera mendapatkan yang diinginkan tersebut, tapi hanya sebatas itulah definisi jodoh terbaik yang kita dapatkan. Berbeda jika dengan sibuk memperbaiki diri. Terus sekolah dengan baik misalnya, belajar apa saja. Termasuk belajar ilmu agama, semakin bermanfaat bagi sekitar, mencemerlangkan akhlak, maka jalinan silaturahmi akan semakin luas, membuat kesempatan bertemu dengan jodoh terbaik lebih lebar. Dengan terus memperbaiki diri, kita bisa mengenal banyak orang, paham banyak karakter, memiliki prinsip2 yang baik, dan itu lagi-lagi membuka lebih lebar kesempatan bertemu dengan jodoh terbaik.

Bayangkan saja seseorang yang hanya tinggal di sebuah kampung, sibuk pacaran di kampung itu saja, menikah. Selesai. Itulah ruang lingkup jodoh terbaiknya. Sebaliknya seorang remaja puteri, yg memilih terus belajar memperbaiki diri sendiri, bodo amat teman2nya sudah pacaran, dengan terus belajar dia bisa membuka pintu sekolah di kota lain, bertemu dengan banyak orang, dengan belajar agama dia memiliki prinsip2 hidup yg baik, bisa memilih teman bergaul yang baik, hingga akhirnya bertemu dengan jodoh terbaiknya. Dia berhasil meningkatkan berkali-kali lipat kesempatan jodoh terbaiknya. Bukan cuma si cowok paling ganteng di kampung tersebut–yang ditaksir gadis sekampung.

Nah, apakah dengan terus memperbaiki diri menjamin mendapatkan jodoh terbaik? Tidak. Memang tidak. Tapi rasa-rasanya, jika proses terus memperbaiki diri itu dilakukan dengan baik, kalian akan berbahagia dengan apapun situasi yang akan dihadapi. Jadi kalaupun dia gagal memberikan jodoh tampan macam anggota boyband korea, atau baik hati pol macam poh si kungfu panda, dia sukses memberikan sesuatu: pemahaman yg baik, bekal hidup yang baik. Dan kalian siap dengan takdir apapun dari Tuhan, termasuk jika ternyata sama sekali tidak memperoleh jodoh di dunia yang amat keterlaluan mencintai ukuran duniawi.

–Tere Lije

One thought on “how’s marriage life?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s