Our Common Enemy; Kemiskinan Kultural

Pada hal yang satu ini, rasanya saya belum bisa menempatkan diri saya ada di posisi mana. Tapi saya yakin bukan cuma saya yang kadang labil akan satu hal ini. Sekali waktu saya berpikir bahwa memberi receh -dengan tujuan berinfak atau karena kasihan- kepada pengemis di jalan itu suatu hal yang kecil dan sepele, yang tak perlu dipikirkan lebih jauh.. “masa iya ngasih receh aja pake mikir? gak ikhlas amat..” Namun tak jarang pula terpikir fakta lain, bahwa kebiasaan kita memberi receh pada mereka justru bisa menjadi sebuah bumerang, dan justru akan membuat jumlah pengemis kian banyak setiap harinya.

Bukan rahasia lagi, bahwa jumlah pengemis entah kenapa kian hari kian banyak. Bahwa pengemis bisa diekspor dari suatu desa ke ibu kota di waktu2 tertentu seperti bulan Ramadhan. Bahwa pengemis masa kini sangat terorganisir dan ada sindikatnya (hiiiy~). Bahwa penghasilan pengemis di Jakarta bisa mencapai Rp.100ribu hingga 200ribu per harinya. Bahwa jumlah pengemis di Jakarta dalam sehari bisa mencapai 20.000 orang. Bahwa jika rata2 penghasilan pengemis tsb per harinya Rp.100ribu, maka total penghasilan pengemis di Jakarta dapat mencapai 2 milyar per hari atau 60 milyar per bulan. We-O-We!

And then, kenapa jumlah sebanyak itu tidak juga membuat mereka hidup cukup lalu berhenti mengemis?

Pak Irfan Syauqi Beik dalam Program Smart Syariah di SmartFM minggu lalu memaparkan, bahwa orang miskin terbagi dua. Golongan pertama adalah orang yang miskin materi tetapi tidak miskin rohani, orang seperti ini masih mau bekerja, tidak malas, dan masih bisa diberdayakan. Golongan kedua adalah orang yang miskin materi maupun rohani, orang-orang seperti ini adalah orang miskin yang malas bekerja, atau bisa juga disebut miskin mental. Yang perlu mendapat perhatian adalah golongan yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah golongan yang dicela agama.

Dalam case pengemis ini, jumlah pendapatan besar seperti yang saya sampaikan sebelumnya nyatanya pun hanya dinikmati segelintir orang yang tak bertanggung jawab, yang jika sudah begini, maka yang paling dirugikan adalah pengemis-pengemis yang memang benar-benar membutuhkan. Selain itu, banyak pula pengemis yang menganggap mengemis itu sebagai profesi, yang menikmati kegiatan ini selama bertahun-tahun tanpa ada usaha mencari pekerjaan lain. Inilah yang disebut kemiskinan kultural. Mereka miskin karena mentalnya, karena kebiasaannya, dan tak ada upaya merubah dirinya menjadi lebih baik. Gak percaya? Udah lihat ini?

Sekarang, mari kita bayangkan jika jumlah tsb dialihkan dari “diterima langsung oleh pengemis” ke “dikelola oleh lembaga yang amanah”. Berapa banyak masyarakat miskin yang akan dapat diberdayakan? Sebab memang, upaya penanganan kemiskinan harus mencakup aspek materi maupun rohani. Mereka diberi, tapi tidak membuat mereka ketergantungan pada pemberian. Jiwanya pun harus dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang bisa membuatnya mempunyai penghasilan, juga rohaninya harus dibekali keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan penuh syukur, yang salah satu bentuknya adalah dengan kemauan untuk bekerja keras.

So guys.. siapa yang sepakat sama saya kalau “penyakit” ini harus segera diobati dengan penanganan yang tepat? Gak perlu jauh-jauh menuntut pemerintah untuk menangani ini, rasanya kita yang masyarakat biasa juga dapat berkontribusi dalam hal ini, yaitu dengan tidak membiasakan diri untuk memberi uang untuk pengemis meski sekedar receh. Lagipula, toh agama kita juga sudah mengajarkan kemana ZIS kita seharusnya kita salurkan. Bahwa zakat, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, seharusnya memang disalurkan melalui lembaga zakat resmi, seperti BAZNAS, BAZNAS Daerah, atau LAZ. Begitu pun dengan infak / sedekah kita, yang meskipun Islam memberi kebebasan pada umatnya untuk menyalurkan kemana, panduannya tetap ada, yaitu diprioritaskan untuk keluarga terdekat, lingkungan terdekat, dan mereka yang membutuhkan yang kita ketahui kondisinya secara jelas dan pasti.

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan, hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa saja yang kamu buat, maka sesungguh-nya Allah Maha Mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 215). 

Yasudahlah ya.. saya sudahi dulu ocehan saya.. Semoga bermanfaat meski sekedar ocehan. Daaann.. mari kita kembali bekerja.. #eh ternyata udah waktu istirahat deng😀 Selamat sholat dzuhur kalau begituu..

4 thoughts on “Our Common Enemy; Kemiskinan Kultural

  1. Sangat bermanfaat dan saya sependapat, mbak Tika.

    Allah itu tidak menyukai orang yang bekerja sebagai peminta-minta. Lalu kenapa kita malah mendukung orang yang melakukan hal yang tidak disukai Allah?
    “Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahanam.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban)
    Lantas, apa kita mau sedekah kita jadi bara api jahanam buat orang lain?

    Mari sama-sama memberikan edukasi ke mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s