Sokola Rimba; orang rimba pun berhak memperoleh pendidikan

Ceritanya, moment one day trip hadiah suami pasca usia saya yang seperempat abad kemarin diakhiri dengan nonton film. One day trip nya di Sentul sih sebenernya, cuma pas nyampe Bintaro masih belom malem, jadilah kita melipir buat nonton film karya duet Mira Lesmana dan Riri Riza itu. Nonton film, meski kita cuma pasang mata dan duduk anteng, kalo film-nya bagus pasti akan melibatkan semua anggota diri kita untuk ikutan bereaksi, bisa tetiba mata keluar air, bisa muka tetiba meringis, bisa hati tetiba terenyuh, bisa juga otak tetiba mikir ini itu, bahkan ekstrimnya pola pikir bisa perlahan berubah. Maka saya sangat setuju kalau film dapat mempengaruhi banyak orang. Sangat. Bisa berefek baik, bisa juga berefek buruk, tergantung filmnya dibuat oleh siapa, punya misi apa, dan kontennya bagaimana. Nah, makanya seneng banget deh kalo ada orang  baik dengan pemikiran keren bikin film. Anyone? :D Dan kalau menurut saya, sebagaimana travelling / mengunjungi suatu tempat yang baru, atau bertemu orang baru, atau membaca buku, menonton film “bagus” [ternyata] juga bisa menjadikan kita seseorang yang tidak akan pernah sama seperti kita sebelumnya.

Sokola Rimba bercerita tentang salah satu bagian dari buku catatan harian Butet Manurung yang berjudul sama. Butet diperankan oleh Prisia Nasution, dan anak-anak rimba diperankan oleh anak-anak rimba Hutan Bukit Duabelas asli; Bungo, Beindah, Nengkabau, dll. Anak-anak ini ekspresinya ntural banget loh, tepat banget kayaknya Miles n Riri memilih warga asli untuk memerankan diri mereka sendiri. Ceritanya, Butet yang bekerja pada LSM Warsi di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi ini bertugas sebagai fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba. Pekerjaannya ini ternyata membuat Butet terikat dengan anak-anak rimba, beberapa kali ia harus berselisih dengan pimpinannya di LSM-nya, bahkan harus melakukan perjalanan mengajar tanpa izin LSM-nya demi bisa mengajar anak-anak Rimba ini. Butet tak hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tapi juga menyatu dengan mereka.

Singkat cerita, takdir  kemudian mempertemukan Butet dengan Bungo, anak dari Tumenggung Makekal Hilir. Bungo membawa kemana-kemana sebuah map berisi surat perjanjian. Bungo ingin sekali bisa membaca apa yang tertulis dalam kertas itu. Ia tau bahwa kertas itu telah menjajah orang rimba. Akibat kertas itu, tanah mereka kian hari kian tergeser, pohon-pohon semakin berkurang, hingga hasil buruan mereka kian hari kian sedikit. Tapi ia tak tau apa yang tertulis di dalamnya, semua orang di tumenggung-nya tidak pernah tau apa yang tertulis di sana. Orang Terang (sebutan untuk orang luar hutan yang datang ke sana) telah menipu mereka, mereka diberi kertas perjanjian itu, dipaksa membubuhkan cap jempol di sana, lalu diberi sedikit upeti; rokok, kopi, dan sedikit uang, lalu perlahan habislah tanah mereka. Mereka harus menandatangani surat perjanjian yang mereka tak tau apa isinya. Di Taman Nasional yang katanya dilindungi pemerintah itu para penebang liar bebas melakukan aksinya. Miris.  

Keinginan Bungo untuk dapat membaca sempat terhalang oleh adatnya. Di tumenggungnya, pensil dipercaya membawa penyakit dan petaka. Karena hal itu pula, Butet diusir dari sana dan tak boleh mengajar lagi. Bungo pun kehilangan gurunya. Tapi takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali. Namun kali ini Bungo harus menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk dapat belajar kepada Ibu Guru Butet,  yang kemudian tetap dijalankan oleh Bungo. Tekadnya kuat, ia ingin bisa membaca, ia tak mau dibodohi lagi oleh Orang Terang.

Titik balik dalam film ini adalah saat Bungo sudah lancar baca tulis hitung, ia tiba-tiba diminta pulang ke tumenggungnya dan berhenti belajar. Sebabnya, Ketua Tumenggungnya meninggal, dan mereka mempercayai bahwa itu adalah kutukan dari pensil, bencana yang ditimbulkan akibat Bungo belajar membaca dan menulis. Titik balik juga terjadi pada Butet. Ia dipecat dari pekerjaannya dan harus meninggalkan anak-anak rimba itu serta pulang ke Jakarta. Namun tak berhenti di situ, di Jakarta Butet bertekad untuk kembali, yang beberapa bulan kemudian ia pun berhasil untuk kembali ke sana dan mendirikan Sokola Rimba dengan bantuan donatur, lalu menyaksikan masyarakat Tumenggung yang diwakili Bungo sudah dapat bernegosiasi dengan Orang Terang ketika diajukan perjanjian penipuan sejenis. Great!

Nah, gak seru sih sebenernya kalo diceritain, lebih asik nonton langsung lho..😀 Kalo buat saya, film ini punya banyak pesan, terutama pesan kemanusiaan. Saya juga suka ekspresi natural dari anak-anak rimba ini. Juga semakin terkagum dengan kiprah orang-orang seperti Butet Manurung, yang telah berkontribusi kongkrit, berkarya melebihi usianya, pembangun peradaban sesungguhnya. Sebagaimana kagumnya saya sama orang-orang yang sudah berkontribusi untuk mengajar anak-anak di pelosok Indonesia, melalui Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia, atau apapun namanya atau bahkan tanpa nama. Mereka sesungguhnya telah memberikan pengabdian yang besar bagi bangsa ini, mereka telah turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Salut lah buat orang-orang kaya mereka. Film ini betul-betul menampar saya yang sudah seperempat abad ini namun belum berbuat apa-apa. Ish.. Selamat hari guru anyway, bagi seluruh pejuang pendidikan Indonesia.🙂

“Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.” 
[Pasal 31 ayat (1) UUD 1945]

4 thoughts on “Sokola Rimba; orang rimba pun berhak memperoleh pendidikan

  1. pas denger ini cerita tentang butet manurung dan produksinya dari miles, beuuuh…. langsung gak ragu kalo filmnya pasti bagus. pengen banget nontoooonn… ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s