Radomology #1 ; History

“No body knows the troubles I see, no body knows my sorrow.” [Tulisan di Nisan Makam Soe Hok Gie]

Saya baru tau kalo Soe Hok Gie ada makamnya setelah sang sobat kubik bercerita kalau dia dan temannya berkunjung ke sana buat ngerjain tugas kuliah (what? ngerjain tugas di makam?!). Karena Gie meninggal di Gunung Semeru, saya sama sekali gak kepikiran kalo ternyata ada makamnya. Hehe. Dudul yak. Lokasi makam beliau ternyata ada di Museum Taman Prasasti di Jl. Tanah Abang 1 Jakarta Pusat. Hey, ternyata pula lokasinya ada di tengah pusat Negeri, tersembunyi di antara gedung-gedung pencakar langit, ini ketidaknyangkaan yang kedua. Soe Hok Gie, lahir 17 Desember 1942 lalu meninggal 16 Desember 1969. Berarti kalau Om Gie masih ada saat ini, mungkin beliau seangkatan sama Akbar Tandjung ya, atau lebih tua beberapa tahun. Nah, kan random. Sebenernya saya mau nulis apa ini? haha. >.<

Ini mungkin karena saya abis baca-baca sejarah tentang Soekarno kali ya, tentang peristiwa kemerdekaan, tentang 9 istri Soekarno dan kisahnya, tentang peristiwa chaosnya negeri di era 60-an, tentang konspirasi Soeharto (atau Amerika) terkait Supersemar, tentang kebohongan Orde Baru terkait gerakan G30S PKI, tentang penguasaan asing thd bnyk sumber daya alam Indonesia hingga kini, dsb dsb yang berkaitan dengan itu.

Kalo boleh saya runut hal-hal yg lagi terlintas di otak saya, begini kira-kira. Pertama tentang film Soekarno yang saat ini sedang beredar. Menurut saya, film sejarah itu bagus (seharusnya), agar kita tak lupa oleh sejarah, agar anak-anak atau generasi muda tau dan tertarik dengan sejarah melalui cara yang mudah. Karenanya, seharusnya ada lebih banyak lagi film-film tentang sejarah Indonesia. Tapi beda soal kalau film sejarah ini banyak distorsi dari kisah aslinya, sebabnya bisa fatal. Seperti yang terjadi dalam film karya Om Hanung yang satu ini, rasanya gak berlebihan kalo ada yang bilang Hanung merusak sejarah bangsa melalui film ini. Saya sampe geregetan pas nonton. Tapi efek baiknya, jadi pengen baca lebih banyak tentang kisah aslinya.🙂

Kedua tentang Bu Inggit. Bu Inggit yang saya maksud adalah Bu Inggit istri Soekarno, setelah Oetari dan sebelum Fatmawati. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kpd Bu Fatmawati, menurut saya Bu Inggit ini adalah istri paling keren-nya Pak Soekarno. Bisa dibilang, Inggit lah yang menemani Bung Karno di saat sulitnya, saat diasingkan ke Ende & Bengkulu, juga setia mendukung saat di penjara. Selama 20 tahun menikah, pengorbanannya begitu banyak, pun dukungan moril serta materi. Maka di mata saya, beliau adalah salah satu pahlawan bagi kesuksesan Soekarno. Sayangnya, mereka harus bercerai karena kuatnya prinsip Inggit yang gak mau dimadu. Pahlawan memang seringkali tidak sempat merasakan hasil dari perjuangannya. Pun Inggit, beliau sudah tak menjadi istri Soekarno saat Indonesia berhasil merdeka, juga kala Bung Karno berjaya dan menjadi orang nomor satu Indonesia dan disegani dunia.

Kalo dipikir-pikir, Pak Soekarno ini chaos juga ya, saya ikutan miris saat membayangkan perasaan Bu Inggit yang harus cerai karena Soekarno ingin menikah dengan Fatmawati, yang merupakan anak angkatnya sewaktu di Bengkulu. Sama mirisnya saat membayangkan perasaan Fatmawati saat Soekarno meminta izin kepadanya untuk menikahi Hartini tepat di hari kedua kelahiran Guruh Soekarno Putra. Juga perasaannya di tahun-tahun selanjutnya ketika Bung Karno menikahi perempuan-perempuan lain yang begitu banyak. Tapi yasudahlah ya, lagi-lagi hal ini mengingatkan kita bahwa orang hebat seperti Soekarno pun punya kelemahan, apalagi kita. Masih tentang Bu Inggit, saya sangat tersentuh dengan kisah di tahun 80-an, saat Fatmawati menemui Inggit lalu bersimpuh di kakinya. Bu Fatmawati mungkin merasa bersalah, karenanya-lah Bu Inggit yang dulu Ibu angkatnya ini harus bercerai dengan Soekarno. Tapi apa kata Inggit? “Ibu adalah lautan maaf. Makanya, kalau tidak mau dicubit jangan mencubit, sebab dicubit itu rasanya sakit”. Subhanallah.. hatinya ternyata seluas samudera.🙂

Ketiga, tentang saat-saat menjelang kematian Soekarno. Kalau kata Ratna Sari Dewi (salah satu istri Soekarno yang orang Jepang & seringkali memunculkan berita yang kontroversial), “Kematian Soekarno sengaja diatur terjadi pada tahun 1970, agar Pemilu pertama Indonesia di tahun 1971 yang digelar oleh pemerintahan Orde Baru dapat terlaksana dengan mulus dan tanpa kendala.” Hehe, saya gak tau fakta sebenernya seperti apa, tapi kalau dirunut kejadiannya, bisa jadi isu kalau Soekarno sengaja dibuat sakit atau bahkan sengaja diracuni itu bukan sekedar isu. Wallahua’lam sih ya.. Tapi terkait itu, beberapa fakta yang kita tahu adalah bahwa naskah Supersemar asli hilang entah di mana, dan bahwa banyak kebohongan yang dilakukan orde baru terkait G30S PKI.

Nanti disambung lagi ya..😀

4 thoughts on “Radomology #1 ; History

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s