5 juni 2013

beberapa menit yang lalu hari berganti. menjadi saksi bahwa dua puluh enam tahun lalu telah lahir seorang dirimu, yang dianugerahi berjuta potensi kebaikan juga keburukan -sama seperti manusia lainnya-. yang juga kelak Allah takdirkan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku insya Allah..

namun baik atau buruknya akhir hidup kita, sangat bergantung dari setiap langkah yang kita pilih. maka semoga dengan bersama, kita bisa menjadi genap seutuhnya. semoga dengan bersama, kita bisa saling meredam potensi buruk kita, lalu melejitkan potensi baik kita. semoga dengan bersama, kita bisa membuat hidup kita lebih baik, serta bermanfaat buat orang-orang di sekitar kita. semoga pula dengan bersama, kita dapat saling menumbuhkan, saling menguatkan, saling mengingatkan, mengupayakan sebaik-baik cara dalam menyelesaikan perjalanan demi akhir yang sebaik-baiknya, meraih ridho-Nya semata.

selamat milad..

Invitation – Mohon ketulusan doanya, kawan :)

Bukankah telah terlingkar masing-masing di lengan kita? Sebuah benang merah panjang yang tak terlihat namun diam-diam menghubungkan kita lewat doa akan teman sejati yang tanpa nama. Lalu suatu waktu kita akan merasakan bahwa benang itu tak lagi mengikat dengan kencang. Ia akan terulur longgar, yang menandakan bahwa sang teman sejati telah mendekat. Dan saat itu telah tiba masanya. Pertemuan. (Noury)

amplop

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Bismillahirrohmanirrohim..

Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, tanpa mengurangi rasa hormat, kami bermaksud mengundang teman-teman untuk menghadiri pernikahan kami,

Tika Novalian
&
Adi Hersuni

yang Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Akad Nikah
Hari : Ahad, 16 Juni 2013
Pukul : 08.30-09.30 WIB
Tempat : Aula Masjid Raya Sektor IX, Jalan Maleo Raya Bintaro Jaya Sektor IX Tangerang Banten

Resepsi
Hari : Ahad, 16 Juni 2013
Pukul : 11.00-13.00 WIB
Tempat : Aula Masjid Raya Sektor IX, Jalan Maleo Raya Bintaro Jaya Sektor IX Tangerang Banten

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila teman-teman berkenan hadir untuk mewarnai hari bersejarah kami ini serta memberikan doa restu kepada kami.

Tika & Adi

*****

Barakallahulaka wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khairin
“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”

Barakallahu likulli wahidin minkuma fi shahibih, wa jama’a bainakuma fi khairin.
“Semoga Allah memberkahi masing-masing dari kalian berdua dengan pasangannya, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan”.

Mohon doa setulusnya dari rekan-rekan semua untuk keberkahan dan kelancaran pernikahan kami.. 🙂

*lets check our wedding-site: www.novalianhersuni.com

dua puluh tujuh

“faalhamaha fujuroha wataqwaha, qod aflaha manzakkaha, waqodkhoba mandassaha” (Asy Syams 8-10)

Scientia Afifah

Kalau mau dicari-cari terus, setiap manusia pasti akan ada kekurangannya, ada cacatnya, ada variabel-variabel yang berpeluang membuat kita kecewa. Tapi bukankah karena itu, bersama menjadi lebih baik dari pada seorang saja? Sebab di situlah kita akan berguna ada bersamanya: dia akan menemukan keutuhannya bersama kita, dan kita akan menemukan keutuhan pula bersamanya.

Ganjaran dua puluh tujuh kali lipat untuk mereka yang shalat bersama, dan hanya satu pahala untuk yang infiradhi. Karena kadang, kesendirian itu menjebak, melemahkan. Sementara bersama itu menguatkan.
Sebagaimana kita ingin diterima utuh dengan segala varian kurang lebihnya, dengan segala apa yang memang kita sengaja sembunyikan sebagai bagian dari masa lalu, kita juga harus terus belajar bahwa siapapun orang di hadapan kita, yang tengah bersama kita saat ini—sengaja atau tidak sengaja, atau yang kita sengaja pilih untuk membersamai kita seterusnya, adalah makhluk dinamis yang punya sisi kelam di masa lalu, dan masih punya peluang menjadi manusia yang lebih…

View original post 6 more words

colisión

“Aktivis adalah orang yang bisa mengerjakan banyak variabel di waktu yang bersamaan dengan hasil yang optimal..” – Ahmad Ru’yat

saya mulai merasa dunia saya mulai bertabrakan. ternyata, mengerjakan atau menyelesaikan 3 hal sekaligus di 3 dunia bukan hal yang mudah.. dan ketika membaca quote ini, ada dua kemungkinan, bahwa saya bukan aktivis, atau saya masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi aktivis yang baik..

baiklah, saya ralat, tiga dunia ini bukan tentang kerjaan umum seorang aktivis kok, saya hanya sedang mengerjakan atau menyelesaikan tiga hal penting dalam hidup (at least buat saya) dalam jangka waktu yang hampir bersamaan.. rasanya, mengorbankan salah satu dunia memang bukan suatu hal yang bijak, apalagi ketiganya sama baiknya, tapi nyatanya saya tidak se –powerpuffgirl itu.. nyatanya hal itu akhirnya saya lakukan, dengan berat hati dan dengan pertimbangan prinsip prioritas. banyak-banyak cuek dulu lah ya untuk sekarang, meski saya terus berupaya melaksanakan kewajiban saya sebisanya agar tidak ada yang terdzholimi saat saya harus meninggalkan sejenak satu dunia tersebut..

begitulah, tetap berdoa kuat-kuat.. semoga takdir terbaik untuk usaha terbaik.. mohon doanya ya, kawan.. 🙂

#meidahsyat

Pride and Prejudice…

sedang berpikir hal yang sama..

betapa (untuk sebagian orang), reaksi besar akan dilakukan jika “pride”-nya sudah terusik.. harus selalu begitukah? tapi kalau buat saya, pride yang diusik manusia, rasanya tidak mengurangi kemuliaan kita.. entahlah.. 😐

Mekanisme Penjagaan Semesta

Jangan jauh-jauh dari lingkaran ini!

Rasanya, kampus memang memiliki kaderisasi yang sangat bagus. Efek tak baiknya, ternyata hal ini melenakan bagi sebagian orang. Lingkungan yang kondusif, liqo, dauroh, kajian, amanah, dan teman-teman yang baik mungkin jadi penjagaan yang amat kuat ketika di kampus. Namun apa kabar diri pada masa pasca kampus? Saat semua hal tadi harus kita tinggalkan, saat ruang dan waktu sudah berbeda; dunia kampus menuju dunia kerja, atau harus pulang ke kampung halaman. Melempemkah kita?

Jangan-jangan, shalih-shalihahnya kita, jilbab lebar kita, gadhul bashar kita, kemampuan tahsin kita, atau azam tak mau pacarannya kita, karena kampus “memaksa” kita untuk seperti itu. Naudzubillah, semoga tidak begitu. Di sinilah bukti kuatnya tarbiyah dzatiyah kita. Bahwa ketahanan di medan memang harus diupayakan. Maka, kawan.. mari upayakan selalu tarbiyah madal hayah .. kokohkan diri dan jiwa dimanapun kita berada, berapapun usia kita, bersama siapapun kita..

Ini bukan tentang lingkungan kita harus seragam, kita harus ada di lingkungan “nyaman” terus, bukan! Berada pada lingkungan yang kondusif maupun tidak, itu sangat tergantung kokohnya diri kita, bagaimana kita bisa imun atau tidak. Justru kekokohan kita baru bisa teruji saat kita berada di lingkungan yang tidak nyaman atau tidak kondusif. Justru yang begitu memungkinkan diri kita untuk berkembang, bukan begitu? Sekali lagi, mari mengokohkan diri.. Menjaga ruhiyah kuat-kuat adalah niscaya, karena itulah senjata kita.. Lalu ketika kita sudah berupaya, insya Allah semesta punya mekanisme penjagaan tersendiri bagi kita.. semesta akan berkonspirasi untuk menjaga kita.. percayalah.. 🙂 Mohon saya juga diingatkan ya..

*selfreminder*

Permainan Takdir ~ AM

Fir’aun mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kotak kecil berisi bayi Musa yang mengapung di sungai dan merapat ke istananya adalah sebuah surat. Itu pesan bahwa ketika ia menginstruksi pembunuhan bayi laki-laki, tanpa sadar ia sedang bermain dengan takdirnya sendiri. Permainan baru saja dimulai!

Seharusnya Fir’aun sadar bahwa isi kotak ini mutlak masuk dalam daftar bayi yang harus dibantai. Dia tidak boleh membuat pengecualian. Tapi Fir’aun membuat pengecualian. Bayi ini dikeluarkan dari daftar target pembunuhan. Dan itulah awal dari semua bencana yang menimpanya kelak.

Pengecualian itu dibuat dengan logika yang sangat lugu dan naif. Istrinyalah yang memberi ide, bayi itu mungkin bermanfaat atau diangkat sebagai anak. Kaum megaloman seperti Fir’aun biasanya menunjukkan kuasa dengan menebar kasih. Maka ia mengabulkan permintaan istrinya, toh semua masih dalam kendali.

Dari celah jiwa itulah Allah memberlakukan kehendakNya. Sang Rasul tumbuh besar dalam istana, dengan fasilitas istana. Perlindungan yang sempurna. Dari waktu ke waktu bayi itu menunjukkan gelagat berbahaya, tapi kasih sayang mengubah sikapnya. Ia melakukan “pembiaran”, semua dalam kendali.

Begitulah Allah mempermainkan Fir’aun. Dimulai dengan mimpi yang menganggu pikirannya dan melahirkan kecemasan luar biasa, lalu bayi mungil itu. Sebuah dinasti raksasa diruntuhkan dengan cara yang sangat sederhana. Dari ide-ide kecil yang diselipkan Allah dalam benak Fir’aun. Itulah permainannya.

Permainan kecil itu hanya ingin menyampaikan pesan sejarah bahwa kendali bukanlah di tangan manusia, termasuk atas pikiran-pikirannya sendiri. Para konspirator selalu ditipu oleh dendam dan megalomania, diyakinkan oleh kedigdayaannya bahwa semua kendali ada di tangan mereka. TIDAK nyatanya!

Sumber optimisme kita dari situ, dari fakta bahwa kendali tidaklah di tangan manusia, kendali tetap di tangan Allah. Dia yang mengendalikan game ini!

Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya!

Allah yang mengontrol seluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir!

Semua ilmu manusia tentang masa depan hanya sampai pada zhan (dugaan). Mereka bisa membaca tren, tapi tidak mengendalikannya. Itu seperti meramal cuaca, bisa diduga-duga tapi tidak bisa dikendalikan. Jadi jangan percaya pada propaganda bahwa ada kekuatan yang tak terkalahkan di dunia ini!

Kantor baruu!

Ada apa dibalik rel kereta layang antara stasiun Gambir – Gondangdia? Yang di bawahnya ada jalan tikus nan gelap-sepi dimana sang satpam kedubes amiriki berjaga di kedua ujung jalan. Yang menurut cerita seorang kawan yang kebetulan berjilbab lebar, pernah sekali waktu ia tak diperbolehkan lewat sana meski banyak orang lalu lalang tanpa ada yang larang. Haha.. what do u think about it? :p Ini adalah pemandangan baru yang bisa saya nikmati di kantor saya yang baru.. Gedung Pupuk Kaltim. Jadi ceritanya, saya dan kawan2 se-divisi resmi pindah dari Kebon Sirih 57 ke Kebon Sirih 6A sejak sekitar 2 minggu lalu. Kembali ke rel kereta layang, dari depan mushola gedung yang saya tempati sekarang, saya bisa melihat bahwa di bawah rel kereta layang itu ada pintu gerbang besar menuju gedung kedubes amiriki, yang kalau saya perhatikan lagi, kalaupun seseorang berhasil masuk pintu itu, masih ada 2 pintu lagi yang harus ditembus seseorang jika ingin masuk gedung utama. Selamat! 😀

View arah Kedubes

View arah Kedubes

Rel Kereta Layang Dibalik Pepohonan

Rel Kereta Layang Dibalik Pepohonan

Lagi-lagi dari sebuah sudut di lantai 2 Gedung Pupuk Kaltim, saya seringkali suka memandangi kereta yang kebetulan lewat di rel kereta layang, yang tertutup pepohonan bambu. Berasa bukan di Jakarta. 😀 Atau sesekali memperhatikan aktivitas di kedubes amiriki; pintu gerbang besar dan berlapis-lapis, atap rumah ala Belanda-Amerika yang eksotis.. cantik 😀

Sambil sesekali nyeracau bebas dengan si teman kubik.. memandangi beton rel kereta layang, si satpam penjaga, juga gedung kedubes dan isinya lalu berkicau;

“semua tata letak bangunan ini nampak penuh konspirasi ya, si rel beton ini jangan2 emang sengaja dibuat begini untuk ngalangin si gedung kedubes, biar gak ada sniper yang nembak dari jauh” :p

“bisa jadi, dan kita yang daritadi ngeliatin sambil nunjuk2 ke gedung kedubes amiriki ini juga jangan2 lagi dipantau via cctv.. siap2 ditembak kalo macem2”

“haha.. buat mereka, pelurunya jauh lebih berharga dari nyawa kita kalii..”

“btw, pak satpam yang berdiri sepanjang hari di kedua ujung jalan tikus itu jobdesc-nya apa ya selain ngejagain tempat yang sebenernya gak perlu dijagai? ah, absurd..”

Apa yang menyebabkan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan itu? Hingga mereka harus mengeluarkan cost besar untuk sesuatu yang tak perlu.. Sungguh tak enak..

Hehe, terlepas dari itu, saya senang pindah ke sini. The whole package-nya emang lebih oke kayaknya. Dari sisi gedung, dengan pindah gedung ini saya jadi ngerasa ada di “kantor beneran”, karena kalo di Kebon Sirih 57 itu berasanya ada di rumah yang dijadiin kantor. :p Yang kedua, mushola-nya. Saya selalu suka sama mushola atau masjid yang tempat wudhu perempuannya bersahabat, memungkinkan kita untuk gak perlu pake kaos kaki lagi setelah wudhu menuju tempat sholat. Dan di sini, alhamdulillah modelnya begitu, buka pintu mushola kita langsung menemui tempat wudhu, trus ruangan selanjutnya langsung tempat sholat perempuan yang tertutup, plus kaca yang gede. Bener2 nyaman deh, kalo mau gugulingan sebentar pas istirahat juga bisa banget, tapi sayangnya saya gak bisa,, hihii..

Selanjutnya, pemandangan yang saya ceritakan di awal tadi.. dengan tambahan suara kereta yang terdengar dari dalam ruang kerja.. Masih tentang suasana, entah kenapa sejak pindah ini suasana kerja jadi lebih damai dan tanpa “polusi” :p Alhamdulillah-nya kawan2 divisi saya auranya positif semua.. Jadi lebih positif suasananya.. 🙂 Dan itu ternyata ngaruh banget ke mood kita. Trus enaknya lagi, sejak pindah ke PKT, saya jadi bisa duduk di 502, dan selalu bisa naik kereta yang jam 17.45.. Alhamdulillah..

Kantor baru, suasana baru, semoga pula jadi energi baru,, Bismillah.. 🙂

Antara Singgalang – Marapi ; Catatan Perjalanan #2

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” — Qaaf: 6-9

Picture 204

Akhirnya, saya menulis catatan perjalanan lagi, setelah berhasil mengenyahkan segala kemalasan dan sebuah alasan klasik; tak sempat! (haiyah.. lebai :p). Tapi, begitulah nyatanya kawan, hal kaya gini udah berulang beberapa kali setiap saya berkesempatan mengunjungi tempat yang indah. Waktu ke Bali, di sana saya berkali ngomong sama diri sendiri kalo pasca itu akan menuliskan catatan perjalanan di blog, tapi nyatanya tak juga saya tulis sampe sekarang. Kemudian berulang waktu saya ke Yogyakarta. Hehe.. karena buat saya, keindahan alam itu emang paling oke buat dilihat puas-puas, dinikmati sepenuhnya, lalu dilesapkan dalam hati. Rasanya itu jauh lebih indah daripada mengabadikannya lewat kamera. Tapi argumen saya ini akhirnya terpatahkan juga di trip kali ini.. 😀

Alhamdulillah, pertengahan Februari lalu diberi kesempatan merasakan trip ke Sumatera Barat. Mata saya sudah dimanjakan sejak menginjakkan kaki pertama kali. Keluar pintu bandara Minangkabau, saya langsung disambut oleh udara yang sejuk dan barisan bukit nan hijau. Yang menyadarkan saya bahwa saya sedang menginjakkan kaki di tanah yang dikepung Bukit Barisan dan Gunung. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. tak henti hati saya bersyukur atas kenikmatan yang satu ini.. karena saya cinta banget sama pegunungan dan suasana yang kaya gini.. 🙂

Selain kesan pegunungan yang damai tadi, ada satu kesan lagi yang saya suka dari Tanah Minang ini, yaitu kesan religius. Pernah suatu waktu saya mampir ke warung, di depan warung saya menemui seorang ibu berjilbab yang sedang membaca buku agama, saya taunya karena ada banyak tulisan arab berupa ayat qur’an atau hadits di bukunya.. Dan, begitulah.. masyarakat Minangkabau ini memang memiliki sebuah way of life, yaitu ; “Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah” yang artinya kurang lebih “adat berdasarkan syara’ (agama), agama berdasarkan pada kitabullah (al-qur’an)”. Gak heran lah ya, kalo kesan religius menempel pada orang-orang di tanah Minang ini.

Baiklah, kita mulai.. Tempat indah pertama yang saya kunjungi ini adalah Pantai Padang. Sebenernya, ke sini hanya sekedar mampir setelah dari BAZNAS Propinsi Sumbar menuju Lembah Anai. Tapi meski sekedar mampir, ternyata indahnya gak kalah sama tujuan utama. Meski pantainya kurang bersih menurut saya, pasir putihnya tetep cakep, dan langit biru serta awan putih membuat mata saya gak bosen-bosen memandanginya.. cekidot ya.. 🙂

moto awan

moto awan

Picture 050

Beautiful sky!

Picture 049

Pesisir Pantai

Picture 067

Pantai Padang

Picture 074

Langit Biru.. Awan Putih..

Perjalanan hari pertama kemudian dilanjutkan ke Lembah Anai.. Wow, ini beneran lembah sodara-sodarah.. #norak :p Lembah Anai ini terletak di Padang Panjang, sepanjang perjalanan Kota Padang menuju Bukut Tinggi kita akan menemukan barisan tebing curam nan cantik yang di tengahnya terdapat air terjun. Air terjun ini ada di pinggir jalan, yang jika kita menyusuri perjalanan dari Bandara Minangkabau ke Bukit Tinggi, pasti akan melewatinya dan dapat menyaksikan keindahan air terjun Lembah Anai ini dari mobil/bus yang kita naiki. Ah, kawan.. jika kau lewat sini, sempatilah mampir meski sejenak, meski hanya sekedar numpang bernafas ditengah padatnya aktivitas, sambil menatapi paduan tebing, pepohonan, dan air terjun yang sungguh cantik. Dan, tetiba saya inget novel “Dibawah Lindungan Ka’bah”, di novel ini Buya Hamka menjadikan Lembah Anai dan Padang Panjang sebagai salah satu romantisme dalam novel tersebut. 😀 Dari lembah anai ini kita dapat melihat rel kereta layang yang konon bukan peninggalan Belanda, tapi dibangun oleh tangan anak negeri. Berikut di-share foto-fotonya ya.. 🙂

Air Terjun Lembah Anai

Picture 095

Berasa di Kayangan :p

http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg

Rel Kereta Layang Karya Anak Negeri 🙂

Next destination, Istana Pagaruyung atau biasa disebut juga Istano Basa. Istana Pagaruyung yang terletak di Batu Sangkar, Tanah Datar ini merupakan peninggalan kerajaan Pagaruyung, kerajaan Melayu – Islam yang konon runtuh akibat Perang Padri. Dan ternyata, Istana Pagaruyung yang biasa dikunjungi sebagai tujuan wisata ini hanya replika dari yang asli, kawan.. Sebab Istana yang asli telah musnah terbakar sejak tahun 1800-an. Hingga kemudian kembali dibangun replikanya pada tahun 1970-an (yang kemudian juga terbakar), lalu dibangun kembali di tahun 2007 yang alhamdulillah bertahan hingga kini. Cantik memang, tapi setelah saya menemukan foto Istana yang asli, ternyata jauh lebih cantik. Foto istana asli ini, kalau menurut saya, ada kesan eksotis dan menyisakan kesan sejarah yang lebih dalam (haiyah :p)..

Istana Baso.. Megaaahh :)

Istana Baso.. Megaaahh 🙂

Diantara Bebukitan

Diantara Bebukitan

Istana Pagaruyung Asli

Istana Pagaruyung Asli

Selanjutnya, Danau Singkarak, Jam Gadang, Ngarai Sianok.. Ini berhubung sayanya cape ngetik ya sodara-sodarah.. jadi saya share foto-fotonya aja kali ya.. Yang belum berkesempatan kesana, semoga dikasih kesempatan.. Cantik, sungguh 🙂

Jam Gadang

Jam Gadang

Danau Singkarak

Danau Singkarak

Mari menyusur danau!

Mari menyusur danau

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Singgalang atau Marapi ya? :D

Singgalang atau Marapi ya? 😀

di Pemataaangg *singing

di Pemataaangg *singing

view dr hotel.. cakep! :)

view dr hotel.. cakep! 🙂

masha Allah..

masha Allah..

ada yg tau ini bunga apa? sy gak tau :)

ada yg tau ini bunga apa? sy gak tau 🙂

Jembatan Rel Kereta

Jembatan Rel Kereta

Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah2 luas, lereng2 gunung. Datangilah padang2 rumput, padang2 pasir. Lihatlah kota2 gemerlap, desa2 damai tenteram.

Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto2 keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’.

(Tere Liye)

hidup dan permainan congklak

dalam permainan congklak, yang menang belum tentu yang memiliki biji congklak terbanyak dalam lumbungnya, tapi yang paling lama dapat bertahan dalam permainan. sebab biji congklak hanyalah aset. tergantung bagaimana kita menggunakan aset tersebut hingga titik akhir.

ini adalah filosofi keren tentang permainan congklak yang dikatakan oleh direktur saya saat kami serentak tetiba bermain congklak sewaktu menemukannya di kedai kopi/teh di sebuah titik di Sumatera Barat. dan memang dasar orang-orang kantor saya ini ‘penggembira’ semua kayaknya, selalu ada hal yang bisa membuat kita tertawa gembira even cuma ketemu congklak ‘di tengah jalan’. what a life. 🙂

playing congklak

histoire

hanya bangsa yang besar yang memahami makna kesejarahannya
dan bangsa yang memutus tali kesejarahannya,
akan lenyap ditelan gelombang peradaban yang tak kenal belas kasihan

berbekal sejarah, ia tak kenal rasa takut menatap masa depan
karena bagi dirinya,
setiap hari adalah saat terbaik mengerahkan segala potensi meraih prestasi

(Toto Tasmara)

*agar kita tak lupa oleh sejarah*

hup.. hupp.. semangaatt! ^^

Rassismus

Adalah seorang Gie, yang sering dipanggil “cina” dengan pandangan merendahkan. Seolah-olah seorang keturunan Cina tak boleh berteman dengan orang pribumi. Dunia menjadi sangat tak adil baginya.

Sebab, apa pernah seorang Gie, ketika berusia 40 hari di dalam perut Ibunya diberi pilihan oleh Tuhan, “kamu mau dilahirkan dengan menyandang status “cina” apa pribumi? dengan kondisi yang berkecukupan atau kekurangan? dengan alur hidup yang datar-datar saja atau penuh liku dan masalah?” Tak pernah, kan?

Maka dunia sungguh terasa tak adil bagi seorang Gie.. Baginya, juga menurutku. Tak adil dan menyedihkan. Tapi percayalah, ini terasa jauh lebih menyakitkan jika kita yang mengalaminya sendiri. Ketika pihak Gie maupun pihak sang rasis pencela Gie itu keduanya adalah orang-orang tersayang. Tak adil, sungguh.

#random

Celoteh: Banjir dan Biopori

17 Januari 2013

Hari ini, rasanya semua warga Jakarta punya cerita masing-masing. Cerita yang berujung pada keberpasrahan diri atas kehendak Sang Pencipta. Yang kemudian membuat setiap kita tertunduk pasrah; “ampuni kami, lagi-lagi alam menunjukkan kuasa-Nya”.

Tears stream down your face.
When you lose something you cannot replace.. *

Hujan. Sejak bangun tidur jam setengah empat subuh tadi saya sudah mendengar riuh suaranya yang begitu deras. Lalu seketika saya berpikir dan mendoa, “semoga pagi nanti saya tidak mendengar kabar tidak baik dari Jakarta”. Tapi nyatanya pagi tadi, entah bagaimana saya pun kembali ke rumah lagi. Ya, dengan berbagai sebab saya pun tidak jadi ke kantor pagi ini. Saya sedang tidak ingin cerita tentang kondisinya, rasanya TV hari ini sudah menggambarkan semuanya. Saya hanya ingin bilang, bagaimanapun, saya tetap cinta denganmu, hujan. :)

Hujan tak pernah salah. Sudah kodratnya lah mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Bahwa Tuhan tak pernah mengirimkan banjir, Tuhan hanya mengirim hujan. Namun jika air tak mengalir seperti seharusnya, jika tempat mengalirnya disumbat, apakah kemudian Tuhan menjadi salah? apakah kemudian hujan patut kita salahkan? tentu tidak, kan?

Saya kemudian tertarik dengan pernyataan yang digulirkan eyang hebat kita; Pak Habibie. Menurut beliau, penanganan banjir harus terintegrasi dari hulu ke hilir, maka penataan dan pembenahan di hulu juga wajib dilakukan selain perbaikan di hilir. Bahwa permasalahan banjir Jakarta bukan hanya tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta, tetapi juga berkaitan dengan Provinsi Jawa Barat, tempat Bogor menjadi hulu dari sumber air yang melimpah ke sungai-sungai di Jakarta, serta seluruh warga yang hidup di wilayah terkait. Termasuk kita, kan? Yang kemudian membuat saya berpikir tentang hal konkrit apa yang bisa dilakukan oleh kita-kita masyarakat biasa ini mengenai hal tersebut. 

Banjir, nyatanya tidak hanya disebabkan oleh curah air yang terlalu banyak. Tetapi juga karena daya resap tanah berkurang, karena tempat aliran air disumbat. Hal ini kemudian mengingatkan saya kepada satu hal; Biopori. Ialah Bapak Ir. Kamir R. Brata, M.Sc., peneliti sekaligus dosen ITSL IPB ini adalah penemu dari teknologi lubang resapan biopori. Mengingat beliau memacu otak saya untuk mengembalikan kembali memori tentang momen pertemuan dengan beliau beberapa tahun yang lalu. Sang Bapak yang sangat sederhana, cara berbicaranya mungkin memang tak seperti para politisi yang pandai menyihir audience dengan kata-katanya, tapi sungguh, karyanya telah berbicara jauh lebih banyak dari ucapannya.

Teknologi temuan beliau, kalau kita pikir-pikir memang amat sederhana, tapi manfaatnya insya Allah sangat besar jika diterapkan lebih luas lagi. Teknologi sederhana ini dinamakan biopori karena memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang membentuk lubang-lubang terowongan kecil (pore) di dalam tanah. LRB ini biasanya dibuat dengan alat, dengan membuat lubang silindris di dalam tanah dengan diameter 10 sentimeter. Kedalaman lubangnya bisa mencapai seratus sentimeter, yang kemudian lubang diisi dengan sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori. Lubang Resapan Biopori ini selain untuk meningkatkan daya resap air tanah, mengubah sampah organik menjadi kompos, memaksimalkan peran dan aktivitas flora – fauna tanah, yang pada akhirnya juga dapat mengurangi resiko banjir.

Hal yang saya ingat lagi dari pertemuan dengan beliau adalah, upaya beliau yang begitu keras untuk mempublikasikan hasil temuannya ini. Tentu bukan untuk menaikkan nama beliau, tapi agar teknologi sederhana yang sangat bermanfaat ini dapat diaplikasikan seluas-luasnya. Beliau juga sempat mengeluhkan kurangnya dukungan pemerintah atas penerapan teknologi temuannya ini. Satu hal lagi yang saya ingat dari apa yang beliau katakan adalah tentang mencintai alam dengan mengupayakan keseimbangan ekosistem agar tetap berjalan dengan baik, seperti apa yang sedang beliau upayakan lewat teknologi LRB ini. Ah, Bapak.. sesungguhnya dirimulah pencinta alam sejati.. 🙂

Lalu hubungan banjir, wacana Pak Habibie dan biopori? meski ini hanya hasil pemikiran otak saya yang random, semoga bisa diambil kesimpulannya ya. Rasanya, ini adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa yang sedang berupaya menjadi warga yang baik. Minimal dengan membuang sampah pada tempatnya, juga melakukan kegiatan mencintai alam lain yang lebih konkrit.. Yuuk.. 🙂

Tears stream down your face.
I promise you I will learn from my mistakes..*

*(Chris Martin, Fix You)

percepción

sadar atau tidak, suka tidak suka, kita hidup dalam lingkaran penilaian – penilaian dari orang lain. A menilai kita begini. B menilai kita begitu. C menilai kita berbeda lagi. mana yang benar? entah. tidak tahu. bahkan penilaian kita atas diri kita sendiri pun belum tentu benar. belum pasti tepat. sebab penilaian kita atas diri seringkali dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap apa yang dikatakan orang lain tentang kita.

tapi buat saya, terserah. saya bahkan lupa kapan terakhir kali saya mempedulikan penilaian orang lain atas diri saya. yasudah. kalian bebas menilai saya dengan persepsi masing-masing. semua orang berhak menilai atas penglihatannya masing-masing. dan saya menghargai itu. saya hanya ingin bilang, bahwa penglihatan manusia amat terbatas. sungguh banyak hal yang tak terlihat dibalik apa-apa yang kasat mata itu.

tapi saya yakin semua orang pernah mengalami ini. (*sotoy :p)

bahwa ada kalanya, kita dinilai rendah oleh orang lain. dengan berbagai sebab. entah dengan alasan sudut pandang ataupun keterbatasan penglihatan mata. as we know, seorang manusia tentu punya sisi kuat-lemah. bahwa ketika dia lemah pada satu hal, tentu dia punya kekuatan pada hal yang lain. maka, kalo buat saya, hal yang begini sih bisa dicuekin. tinggal dibuktikan saja, bahwa kita tidak serendah – seburuk – sejelek yang mereka lihat dan sangkakan. selesai perkara.

namun ada kalanya pula, orang lain menilai kita dengan ekspektasi yang begitu tinggi. saking tingginya, seringkali menimbulkan rasa ngeri. sedang kita merasa tidak layak atas penilaian itu. bahwa kita merasa kita belum pada kapasitas itu. ini yang berat. saya pernah hampir merasa tertekan atas hal ini. sampai kemudian saya sadar bahwa hal ini sangat membangun. membantu meningkatkan konfidensi kita atas diri. serta memacu  diri untuk meningkatkan kapasitas serta berbuat yang terbaik mengejar ekspektasi yang terasa begitu tinggi itu. hingga pada akhirnya kita tersadar bahwa kita bisa melewati semuanya meski tak sempurna. dan hal ini akan menampar kita, bahwa sesungguhnya kita bisa jika mau belajar, dan potensi kita bisa saja lebih dari ekspektasi yang kita anggap tinggi tadi.

memang sih, penyikapan atas kedua hal tadi sungguh tergantung dari tingkat konfidensi kita sedang ada di titik mana. semua pasti akan terasa berat jika tingkat konfidensi kita sedang ada di titik rendah. tapi semuanya bisa membangun kok. pada akhirnya, kita akan berterimakasih atas penilaian-penilaian orang lain itu. rendah – tingginya pun tak akan berpengaruh lagi pada akhirnya.

maka semoga, naik – turunnya fase hidup ini, dinamika tinggi – rendahnya penilaian orang lain atas kita ini, menyadarkan diri. bahwa sesungguhnya apa-apa yang kita lakukan haruslah yang terbaik. terbaik di mata Rabb kita. hingga kita tak perlu berlelah atas bagaimanapun penilaian manusia. sebab satu-satunya alasan kenapa kita perlu peduli penilaian orang lain adalah bahwa kita wajib menjaga izzah dan iffah diri sebagai seorang muslim. hanya itu rasanya. entahlah. Allahua’lam bishawab.

*haduh, ngoceh apa sih ini gue? #random #abaikan :p

Buat Apa Sekolah?

Siapa yang pernah menonton 3 idiots? Banyak. Siapa yang suka film itu? Banyak yg suka. Tetapi siapa yg sebenarnya mengambil pelajaran paling cemerlang dari film itu? Entahlah, siapa yg mengambil manfaatnya.

Ada ibu-ibu dengan anak gadis yang siap menikah. Menonton 3 idiots, ibu-ibu ini sampai menangis. Tapi saat anaknya bilang mau menikah, dan hanya akan jadi ibu rumah tangga saja, ibu-ibu langsung bergegas bilang, “nggak boleh. enak saja sy sekolahkan tinggi2, hanya untuk jadi ibu rumah tangga!” Lihatlah, jawaban itu menunjukkan sama sekali tidak berbekas pemahaman yang datang dari film barusan ditontonnya.

Kita ini sekolah tinggi2 buat apa sih? Buat nyari pekerjaan keren? Buat jadi pegawai? PNS? Buat nyari rezeki? Keliru kalau jawabannya iya. Saya membuka kitab-kitab, membaca buku-buku tua, menelusuri kesemua hal, tidak ada satupun nasehat yang bilang: sekolahlah tinggi2, agar besok bisa jadi pejabat, kaya raya, dan berbagai ukuran duniawi lainnya, dsbgnya, dsbgnya. Apalagi kalau membuka kitab yg tidak penah keliru: Al Qur’an, juga merujuk nasehat yg tidak akan salah: riwayat Rasul, seruan untuk belajar, tidak ada rumusnya dengan ukuran duniawi.

Kita disuruh belajar, mencari ilmu (dalam dunia yg sangat modern ini ukurannya adalah SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, S4, S5 dstnya), murni agar kita banyak tahu, asli agar kita paham banyak hal, dan ilmu itu b-e-r-m-a-n-f-a­-a-t bagi kehidupan kita sehari2. Seorang istri yang S3, tidak ada masalah sama sekali tetap menjadi ibu rumah tangga, dan ilmunya bisa bermanfaat utk keluarganya. Ilmunya bisa bermanfaat buat tetangga, sekitar, aktivitas apa saja yg bisa dia lakukan, terlepas mau bekerja di perusahaan/­pemerintah atau hanya bekerja di rumah.

Itu benar, saya tidak akan membantahnya, memang ada korelasi kuat antara berpendidikan dengan masa depan cerah, tapi definisi ‘masa depan cerah’ itu bukan s-e-m-a-t-a-2 ukuran duniawi yang membuat proses belajar selama ini jadi kosong. Bukan hanya itu.

Maka, kembali ke film 3 idiots tadi, bukankah Rancho hanya belajar dan belajar. Dia senang belajar, dia senang mencari ilmu. Titik. Sisanya, serahkan pada nasib. Dia tidak peduli gelar, dia tidak peduli mau bekerja jadi apa, dia tidak peduli. Bahkan saat dia harus menyingkir dari ‘kehidupan’, pergi menjauh dari gemerlap banyak hal, justeru kehidupan dan gemerlapnya dunia yang datang kepadanya. Sementara Silencer, teman kuliahnya dulu yg selalu sibuk berhitung atas duniawinya, merasa sudah memenangkan segalanya, ternyata kosong saja, dia hanyalah orang yg amat tergantung nasibnya dgn orang lain. Takut dipecat kerja, tergantung nafkahnya dari orang lain, dan diperbudak oleh materi. Sejatinya Silencer hanya orang ‘suruhan’, terutama suruhan ambisi dan nafsu duniawi–meskip­un direktur sekalipun posisinya.

Aduh, bukankah rumus ini banyak terjadi di sekitar kita? Ada banyak teladan yg memilih sibuk belajar, belajar, bekerja, bekerja, terus menjadi yg terbaik, mau jadi apapun dia, bahkan sekadar ibu rumah tangga, hidupnya t-e-r-n-y-a-t-a­ tetap spesial, bermanfaat bagi banyak orang. Sebaliknya, buanyaaak sekali, yg sibuk menghitung nilai raport, menghitung sekolah sy elit, keren, saya sudah S2, S3, situ apa sih? sy sekolah di kampus ngetop, situ dimana sih? Ternyata tidak pernah lepas dari kungkungan hidupnya, meskipun boleh jadi secara kasat mata sukses menurut ukuran dunia saat ini.

Demikianlah.

[Tere Liye]

setuju pake banget. tapi kenapa begitu banyak orang di luar sana yang masih berpikir demikian ya? hufh, bekerja saja.. buktikan.

keep curious! ^^

kata Izan, saya berbakat buka konter hape.
kata Lili, kalo nanti bb-nya rusak, ngebenerinnya bisa ke saya aja.
-___-“

saya perlu (sekali lagi) berterimakasih kepada mbah gugel atas hal ini. sebabnya, bb sy yang sudah dua bulan lebih gak aktif karena rusak ini sekarang aktif lagi dengan rasa bb baru. awalnya, bb sy itu terlalu sering keluar jam pasir. saya yang kurang sabaran ini lama-lama kesel juga karena jam pasir ini sungguh mengganggu efisiensi aktivitas per-bb-an. selain itu, aplikasi bbm-nya tetiba gak bisa dibuka, dan saya cuma bisa baca bbm orang tanpa bisa bales, karena setiap ngetik lalu enter, ketikannya bukannya kekirim malah ilang. dan saya cuma bisa nge-ping di aktivitas per-bbm-an ini. awalnya udah sempet ngotak-atik, sempet pengen uninstall bbm lalu install ulang, tapi khawatir data kontak bbm ilang. maka saya pun pasrah dan berniat membawanya ke konter henpon untuk diservice. yang hingga dua bulan kemudian tak juga saya lakukan karena saya udah asik dengan si android. :p

sampai suatu hari, seseorang malah penasaran sama kondisi bb sy, dan karena bantuan beliaulah saya mengenal bb desktop software lalu memback-up semua data di bb. yang kemudian si bbm saya uninstall lalu sy install kembali. dan, taraa! bbm saya bisa berfungsi seperti semula dengan kontak yang masih lengkap tak kurang satupun. ternyata saya masih kurang puas, jam pasir masih ada. lalu saya yang sedang terinspirasi oleh sifat penasarannya teman saya itu pun segera berniat untuk menyelesaikan masalah jam pasir dan keleletan bb itu. lalu saya tanya ini – itu ke mbah gugel, cari tau sumber masalah, coba-coba, install-install, otak-atik, dan Alhamdulillah! BB saya gak keluar jam pasir lagi.. gak lemot lagi.. os berhasil diupgrade.. bener-bener jadi kaya baru. 🙂

dan, sungguh ya kawan.. saya takjub sendiri atas semua hal ini, rasanya puaass.. sekali! *eh, apakah saya sudah mulai lebai? maaf 😀

dan memang, sang kawan sungguh menohok saya secara tak langsung. saya yang tadinya buta atas hal beginian, gak tau -dan gak nyari tau, juga gak mau repot ini akhirnya tertular penasarannya. dan rasanya curiosity itu memang harus selalu ada dalam diri tiap kita. sebab karenanya pengetahuan-pengetahaun baru muncul, sebab dunia begitu luas dan begitu banyak ilmu di luar sana. dan sekali lagi, terimakasih gugel, terimakasih kawan 🙂

“Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we’re curious.. and curiosity keeps leading us down new paths.” (Walt Disney)

About 5 cm #2

Saya pertama kali baca buku ini waktu saya kelas 3 SMA. Di awal, ada sejenis penolakan dalam diri saya akan buku ini (yang udah baca pasti tau deh karena apa -_-), tapi kemudian saya memilih untuk bertahan karena saya semakin yakin bahwa hikmah dapat kita temukan dari mana saja, dari siapa saja, termasuk dari lirik lagu, dari kutipan film, serta dari 5 sahabat ‘ancur’ dalam buku ini. Dan di akhir bacaan, saya puas. Saya tak menyesal telah membacanya sampai habis, dan semua ke-ancur-an terlupakan sudah serta berganti dengan jutaan hikmah. Tak lama setelah itu saya pun lulus dan diterima di IPB. Dan masa itu adalah masa dimana otak saya masih merekam jelas quote2 bagus dari buku ini, serta belajar mengaplikasikannya dalam hidup yang nyata. Juga seorang saya waktu itu adalah yang pada saat masa pendaftaran kampus diminta isi biodata singkat (dan ini berkali seingat saya, yang beberapa masa kemudian saya baru sadar itu buat apa :P), yang pada poin pertanyaan buku yang pernah dibaca saya selalu tulis 5 cm – dony dhirgantoro sebagai salah satunya. Yap, bisa dibilang ini novel pertama yang jadi favorit saya. *tidak bermaksud lebai 😀

Ada yang menarik buat saya dari sang penulis, bahwa pak Dony, pasca novel 5 cm terbit dan booming pun bahkan ia masih memperjuangkan cita-citanya untuk menjadi seorang penulis. Yang memilih berhenti dari pekerjaan settlenya di bank swasta untuk menjadi penulis, dengan buku 2 sebagai hasilnya. Yang katanya tentang keputusan meninggalkan pekerjaannya itu; ini pilihan pekerjaan yang masih harus saya perjuangkan sampai sekarang. Yap, beliau membuktikan apa yang telah ditulisnya di buku ini dengan berani meninggalkan zona nyamannya sebagai pegawai bank swasta menuju cita-citanya yang penuh resiko.

“A life without a risk is a life unlived..” mungkin, sekarang kenyamanan sudah jadi segalanya sehingga tak ada lagi yang mau mengambil risiko untuk mimpi-mimpinya, tak ada lagi yang mau mencari keajaiban-keajaiban dan keindahan sebuah hati..

“You may say i’m a dreamer, but i’m not the only one” (Lennon, Imagine)
“Everyman dies not everyman really lives” (Mel Gibson, Braveheart)
“All my life changing everyday in every possible way” (The Cranberries, Dreams)
“To be or not to be! thats the question”(Shakespeare, Hamlet)
“We are the champion my friend.. and we’ll keep on fighting till the end” (Mercury, Queen)
“Saya tidak akan memakan buah palapa hingga Nusantara bersatu di bawah bendera kejayaan Majapahit” (Mahapatih Gajah Mada, Majapahit)
“Bila sampai waktuku” (Chairil Anwar)
“..I just brought Indonesia.. I fight and work and sacrifice my self for this Indonesian people.. this Fatherlind of mine” (Soekarno)

Akan selalu ada suatu keadaan, kenangan, dan orang-orang tertentu yang pernah singgah dalam hati kita dan meninggalkan jejak langkah di hati kita dan kita pun tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya.

Juga, bahwa memang hidup kita ini bukan milik diri kita sendiri. Selalu ada hak dan bagian orang lain dalam hidup kita. Maka, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya, semoga pula kita dapat membuat orang lain dapat bernafas lebih lega karena keberadaan kita di sana. Semoga hadirnya kita dapat meninggalkan jejak sebaik-baiknya di hati orang lain. Dan semoga setiap cita yang kita rangkai pun dalam rangka demikian. Semoga, ya..

“You are the universe.. you’re the driver, not a passenger in life.. and when you’re ready, you wont have to try cause.. you’re the universe and there ain’t nothin’ you cant do.. if you conceive it, you can achieve it.. thats why i believe in you” (Brand New Heavies)

Selamat hari selasa 1 Januari 2013 anyway.. Semoga berkah senantiasa mengiringi setiap langkah. Merangkai mimpi lagi, yuk 🙂

“Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. (Nabi Yusuf as)

crítica

pagi ini, seorang kawan membuatku belajar bahwa;

sebuah kritik, sepahit apapun itu, tentu tak akan menjadi dosa jika disampaikan langsung ke orang yang bersangkutan hingga dapat membuat yang dikritik menjadi lebih baik. begitu sungguh jauh lebih baik dibanding kritikan yang dibicarakan tidak pada tempatnya hanya karena kekhawatiran untuk menyampaikan langsung. yang pada akhirnya kritikan itu tak pernah sampai langsung ke orang yang bersangkutan, dan pembicaraan-pembicaraannya tak akan mengubah apapun. maka, sampaikan saja.. kan?

setelah sang kawan tidak melanjutkan kritikannya karena katanya khawatir dosa. padahal sayanya suka ko dikritik. siapa yang gak suka kalau ada yang peduli dan menginginkan saudaranya menjadi lebih baik? 🙂

*****

*notes ini sy tulis kemarin selagi menunggu kereta di stasiun pondok ranji via hp, yang beberapa menit setelahnya hp saya sudah berpindah tangan. dan alhamdulillah kini telah diganti dengan yang lebih baik lewat beraneka macam takdirNya yang selalu menakjubkan. alhamdulillah. 🙂

Ta’limul Qur’an Lil Aulad

kami santri ta’limul qur’an lil aulad

rajin belajar tahfidz tilawah qur’an

kenali ilmu pengetahuan dan agama

kelak menjadi insan muliaa

(Mars TQA)

Ada yang pernah TQA? ada yang pernah tau mars ini? Lagu ini diajarkan  kepada saya saat saya TQA (SD) dan sekarang tetiba terngiang penuh haru. Terimakasih, para Guru TKA -TPA -TQA Bintaro Jaya IV..

***

a little opinion

saya hanya ingin beropini, atas sebuah kejadian yang menimpa kalian, duhai ade2 saya tercinta. sungguh, mohon dimaafkan kakakmu yang satu ini, yang cuma bisa mengamati dari jauh tanpa bisa bantu apapun.  maafkan, ya.. 🙂

honestly, saya selalu senang terhadap segala sesuatu yang membuat sang objek penderita menjadi belajar dan berkembang. entah itu menimpa saya, atau menimpa saudara-saudara yang saya sayangi. salah satunya ya kejadian ini (hey, tunggu.. jangan hakimi saya dulu ya). iya, saya miris sekaligus senang. lihatlah akibat dari peristiwa ini.. betapa senangnya saya saat melihat satu per satu dari kalian menulis lalu mempublish tulisan di media sosial. juga saat tau pencerdasan-pencerdasan kepada mahasiswa umum kemudian dilakukan dengan masif oleh kalian akibat hal ini.

menurut seorang saya yang sok tau ini, mungkin km ipb memang sudah waktunya untuk direfresh. semoga ini cara Allah untuk membuat kita lebih baik. kalau kita jujur kepada diri kita, sungguh banyak memang yang perlu kita benahi kan? betapa yang namanya memblow-up isu secara masif kepada mahasiswa umum masih menjadi pr selama tahunan kepengurusan. betapa membuat kegiatan yang dapat menyentuh seluruh kalangan mahasiswa juga masih menjadi pr bagi tahunan kepengurusan kebelakang. betapa merangkul seluruh isi km ipb pun masih terasa begitu sulit, apalagi merangkul mahasiswa ipb seluas-luasnya.

tapi melalui peristiwa ini, lihatlah sisi baiknya.. setidaknya sekarang kalian punya common enemy dan kalian menjadi kompak karena itu. 😉 menurut saya, setidaknya itu lebih baik dibanding ‘ribut sendiri di dalem’ kan? meski seharusnya common enemy kalian sekarang itu yang juga kalian rangkul untuk melawan common enemy sesungguhnya; ketidakberesan kebijakan. sisi baiknya pula, saya jadi lebih sering menemukan tulisan kalian di media sosial, dan itu sungguh baik untuk  membuat mereka yang gak peduli jadi peduli, yang gak tau jadi sedikit tau, dan semoga kemudian melalui peristiwa ini jumlah mahasiswa apatis jadi berkurang ya.

jeda selalu memberi kesempatan bagi kita untuk bersiap dan berbenah. maka semoga begitu pula dengan jeda ini. semoga, ini dapat menjadi titik balik bangkitnya km ipb yang lebih baik. semoga pula menguatkan tekad untuk beramal lebih baik lagi. mohon diikhlaskan segala effort kalian yang dituntut lebih ini. semoga, peristiwa yang menguras peluh, emosi dan pikiran kalian ini dibalas dengan balasan sebaik-baiknya dari Allah. semoga ruhiyah kalian tetap terjaga.

salam. tika novalian. alumni km ipb. yang mencintai kalian karena Allah.

setuju!

Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah2 luas, lereng2 gunung. Datangilah padang2 rumput, padang2 pasir. Lihatlah kota2 gemerlap, desa2 damai tenteram.

Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto2 keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’.

Jangan habiskan waktu di jendela rumah/kantor/kendaraan yg sama setiap hari. Apalagi jangan habiskan waktu di jendela HP, laptop gagdet saja. Perjalanan menunggu di luar sana.

*Tere Liye, selepas menonton Hobbit, prequel Lord of The Ring

*****

setujuuuuu!!! huks,, ayolah.. siapa yang mau ngajak saya jalan-jalan?

I Love this Part : 5cm #1

*di atas awan puncak tertinggi Jawa;

Biar saja ku tak sehebat matahari
tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
tapi slalu kucoba tuk melindungimu

Sebuah kehormatan bagi saya. Saya, Genta telah mendaki Mahameru bersama kalian sahabat tercinta.. di Tanah Air tercinta ini. Kehormatan ini tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Suatu kehormatan juga bagi saya dan kehormatan itu buat kita semua.. saya Arial. Seorang yang sangat mencintai tanah ini.

Biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi slalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu ku coba tuk meng-indahkanmu

Juga bagi saya, Arinda. Indonesiaku.. saya mencintaimu sepenuhnya.

Semua berawal dari sini (menunjuk kening).. Saya Zafran, saya mencintai negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta ini.

Kupertahankan kau.. demi kehormatan bangsa..
kupertahankan kau.. demi tumpah darah..
semua pahlawan-pahlawanku..

Dan selama ribuan langkah kaki ini, selama hati ini bertekad, hingga semuanya bisa terwujud sampai di sini, jangan pernah sekali pun kita mau menyerah mengejar mimpi-mimpi kita.. Saya Riani, saya mencintai tanah ini dengan seluruh hati saya.

Merah putih teruslah kau berkibar..
di ujung tiang tertinggi..
di Indonesiaku ini..

Saya Ian.. saya bangga bisa berada di sini bersama kalian semua. Saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya, saya akan menjaganya, dengan apa pun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri. Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini. Yang berani nyela Indonesia, ribut sama gue!

Merah putih teruslah kau berkibar..
ku akan slalu menjagamu..

Dari : Novel 5 cm. Donny Dhirgantoro

***

Baiklah, aku kalah.. Semeru itu cantik. –noury

Di atas tanah, namun dekat sekali dengan langit, dekat dengan sang Pencipta. Hingga kamu bisa nangis tanpa kamu harus tau alasannya. –Herjuno7Ali

Dan aku telah jatuh cinta padanya sejak 6 taun lalu. Semoga kelak diberi kesempatan menjejakkan kaki di tanahnya, Mahameru. –novaliantika

#DamnILoveIndonesia :’)

tiga film dari tiga novel

di desember ini, setidaknya ada tiga film baru yang akan tayang, dan ketiganya diangkat dari novel best seller.

1. Habibie – Ainun

salah satu novel favorit dari tokoh favorit. 🙂 saya baca novel ini 2011. banyak inspirasi. what a romantic story :’)

 

2. 5 cm

novel ini saya baca waktu saya masih sma. dan langsung bikin saya pengen banget ke semeru. analogi tentang mimpinya sungguh keren.

 

3. Bidadari – Bidadari Surga

yang ini saya belum selesai baca novelnya sodara-sodarah ^^

*nampaknya ketiga film ini keren.. mari nonton 😀