Indonesia, Pasar Properti yang Masih Potensial

Ramadhan lalu, kebetulan kami sempat mencari tempat tinggal di daerah pusat Jakarta. Salah satu pertimbangannya adalah jadwal kerja saya cukup padat ketika Ramadhan, dan memungkinkan untuk sering pulang malam (at least buka puasa di kantor). Lagipula, kantor saya dan suami sama-sama di pusat Jakarta. Maka dengan pertimbangan efisiensi dan produktivitas ibadah Ramadhan, kami pun memutuskan untuk tinggal di daerah Jakarta Pusat untuk sementara. Awalnya, agak sulit mencari tempat tinggal sesuai yang diinginkan. Salah satu syarat yang membuat sulit adalah harus adanya tempat parkir mobil. Sesekali ada, namun harganya di luar jangkauan, atau kalaupun harganya cukup bersahabat, parkiran sudah penuh.

Takdir kemudian mempertemukan kami dengan sebuah tempat tinggal di wilayah Kebon Kacang (antara Thamrin & Tanah Abang). Dari sisi lokasi, sangat strategis dari kantor saya maupun kantor suami, bahkan saya bisa jalan kaki kalau mau; lewat Sabang, Sarinah, lalu Kebon Kacang. Dari sisi fasilitas juga lengkap, kamar mandi di dalam, AC, parkiran layak, jalanan depan rumah besar, ada dapur, dan ruang tengah untuk duduk-duduk sambil menikmati angin. Meskipun ada beberapa fasilitas yang bermasalah dan harga juga tidak bisa dibilang murah, tempat tinggal ini rasanya cukup bagi kami.

Yang saya perhatikan, harga properti di tengah kota itu mayoritas mahal. Dan meskipun rata-rata mahal, tetap saja banyak yang mencari dan selalu saja penuh. Rasanya, selagi masih banyak perkantoran, kost/kontrakan akan selalu dicari, di manapun tempatnya. Saya jadi terpikir untuk investasi tanah di tengah kota lalu membuat kost-kostan (jika dan hanya jika saya punya uang untuk itu.. hihiii). Satu hal lagi, mahalnya harga tanah di pusat kota, membuat para pemilik usaha properti sangat mengoptimalkan tanah yang dimilikinya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya perumahan yang dibangun bertingkat, juga jarangnya kontrakan/kostan yang menyediakan tempat parkir mobil. Kebanyakan dari pemilik usaha properti ini memilih untuk memperbanyak kamar daripada menyediakan fasilitas tempat parkir mobil yang luas, pertimbangannya sudah pasti penghasilan yang akan mereka dapatkan.

Berbicara tentang properti memang selalu menarik. Di Indonesia, pertumbuhan properti kian hari kian meningkat. Bahkan pertumbuhan harga properti di Jakarta dikabarkan telah melebihi Beijing dan Hongkong (sumber). Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh iProperty.com tentang Sentimen Pasar Properti di Asia, masyarakat Indonesia ternyata kini semakin peduli terhadap kepemilikan properti, baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai investasi jangka panjang. Menurut Andy Roberts (General Manager Rumah123.com), faktor kunci yang mempengaruhi hal tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang baik, pertumbuhan kelas menegah yang pesat dengan daya beli yang terus naik secara signifikan, serta tingkat inflasi yang stabil. Tidak bisa dipungkiri, saat ini memang pertumbuhan kelas menengah di Indonesia semakin meningkat. Menurut ekonom yang kini menjadi Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, kelahiran kelas menengah baru ini adalah pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia:

“Ada 60 juta orang kelas menengah yang membelanjakan uang antara Rp. 35 ribu hingga Rp. 45 ribu per hari. Riset Insitut McKinsey memperkirakan bahwa tahun 2025 akan ada 135 juta konsumen Indonesia, yang setiap orangnya membelanjakan uang lebih dari Rp 100 ribu per hari. Jika mencapai angka itu, maka jumlah konsumen Indonesia akan lebih tinggi dari kombinasi tiga negara: Singapura, Malaysia dan Australia.“

Jumlah orang kaya Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Saat ini ada lebih dari 100 ribu orang yang memiliki kekayaaan lebih dari 1 juta dollar. Dalam laporan mengenai kekayaan global tahun lalu, Credit Suisse memperkirakan jumlah orang kaya itu akan naik dua kali lipat menjadi 201 ribu pada tahun 2017. Ironisnya, pada saat bersamaan, laporan Bank Dunia mengungkapkan bahwa satu dari empat orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, atau mempunyai penghasilan kurang dari Rp 300 ribu per bulan. (sumber)

Agak ironis sebenarnya. Tapi begitulah nyatanya negeri kita. Kelompok menengah semakin banyak, namun di sisi lain orang miskin tetap saja banyak. Tak perlu jauh-jauh, pertumbuhan kelas menengah ini dapat kita lihat dari meningkatnya orang-orang yang memiliki gadget keren, memiliki mobil mewah, juga berinvestasi rumah mewah. Riset sentimen pasar yang dilakukan iProperty.com ini juga menunjukkan bahwa daya beli properti masyarakat Indonesia ada di kisaran Rp. 250 juta. Dibanding dengan negara Asia lain, masih menurut survey ini, berkembangnya pasar properti di Indonesia juga dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang cenderung rendah. Di beberapa negara lain, peraturan pemerintah cukup banyak terkait masalah properti ini, antara lain dengan pajak yang tinggi. Hal ini biasanya dilakukan untuk mengendalikan inflasi.

Menurut survey ini, faktor yang jadi pertimbangan masyarakat ketika memutuskan untuk membeli properti pun telah berubah, dengan lokasi lebih diutamakan dibandingkan harga. Hal ini sangat rasional mengingat kemacetan selalu terjadi di area pusat-pusat perkantoran. Masyarakat pun cenderung lebih pilih-pilih lokasi rumah yang menurut mereka strategis ke tempat-tempat di mana mereka banyak menghabiskan aktivitasnya, seperti tempat kerja mereka, tempat sekolah anak-anak mereka, maupun pusat perbelanjaan ataupun hiburan. Di sisi lain, motivasi utama responden di Malaysia, Indonesia dan Hong Kong untuk membeli properti adalah untuk memiliki rumah sendiri, sementara responden Singapura termotivasi oleh investasi jangka panjang.

Survey ini dilakukan oleh iProperty.com melalui website mereka di masing-masing negara; Malaysia (iproperty.com.my), Indonesia (Rumah123.com dan rumahdanproperti.com), Hong Kong (GoHome.com.hk), dan Singapura (iproperty.com.sg). Survei diikuti oleh lebih dari 30.000 responden yang mayoritas berusia 26-50 th. Sebagian besar responden adalah eksekutif/manajer dan karyawan/profesional. Dan berdasarkan pendapatan tahunan mereka, sebagian besar responden termasuk kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. Berikut infografik hasil survey ini.

Hasil Survey Sentimen Pasar Properti di Asia

Advertisements

per-empu-an

April adalah kisah tentang perempuan. Ya, perempuan. Mari mengeja sembilan huruf itu; “per – empu – an” dengan kata dasar empu. Yang belajar sejarah, pasti ingat dengan kata empu. Empu artinya ‘tuan’, orang yang mahir, yang pertama, yang utama, yang hebat, yang sakti, yang diharapkan karya-karyanya.. Ah, benarkah? 🙂

Untuk menjawabnya, mari mengeja perannya dgn sebaik-baik nafas; islam. Yang berarti mmposisikan lelaki dan perempuan pada posisi yang seimbang, sebagaimana sepasang sayap atau kedua kaki, keduanya seirama dan saling melengkapi.. Seorang perempuan tetap memiliki kodrat sebagai anak, istri dan ibu.. tapi ia juga memiliki peran sebagai anggota masyarakat.. sebagai entitas dari suatu umat..

Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari penduduk negeri ini adalah perempuan.. Namun jumlah yang banyak itu belum ‘berdaya’ ternyata. Padahal, sebagai entitas dari suatu umat, perempuan memiliki peran penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Bukankah perempuan adalah tiang negara, yang jika dia (perempuan) itu baik, maka baiklah negara itu, tetapi bila perempuan itu rusak maka rusaklah negara itu.. Maka, ‘baik’ dan ‘berdaya’ menjadi suatu hal yang wajib bagi kaum ini.. setuju kah?

Hey, tapi ini bukan tentang feminisme atau emansipasi yang berlebihan.. bukan! Dalam sejarah feminisme, kita menemui kisah penindasan perempuan di masa lampau, kita juga menemui perjuangan kaum feminis melalui parlemen maupun aksinya untuk membela kebebasan kaum perempuan. Mereka berpikir bahwa peran domestik yang dilakukan perempuan menjadikan mereka terhambat, tidak berkembang, dsb. Isu ini pun berkembang di Indonesia yang biasa dikenal dengan emansipasi perempuan dengan RA Kartini sebagai simbolnya. Tapi benarkah ini semua?

Dari gelap terbitlah terang.. kumpulan tulisan dan surat kartini yang dibukukan ini menjadi ‘senjata’ bagi kaum feminis dalam perjuangannya. Tapi seharusnya kita jangan 100% percaya mengingat distorsi sejarah yang dialami negeri ini. Dan ternyata, memang ada yang ditutupi dari kisah Kartini ini. Tak pernah tersampaikan bahwa judul buku ini terinspirasi dari ayat Al-Qur’an ‘minadzhulumati ilannur’, tak pernah dibuka pula tentang pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh, juga tentang Kartini yang mempelajari Al-Qur’an dari beliau serta mengalami transformasi spiritual.. Ya, sejarah kita memang seringkali mengalami distorsi.

Maka, sekali lagi; mari kembalikan peran perempuan dengan sebaik-baik nafas: islam.. Islam menjadikan perempuan sebagai makhluk yang mulia. Ia tidak lagi menjadi obyek yang dapat diperlakukan semena-mena, tapi justru dapat berkembang sepenuhnya, sesuai kodratnya, sesuai kebutuhan zamannya.. Karena ia adalah perempuan; sang peng -empu peradaban.

Untuk perempuan Indonesia; Selamat hari kartini..^^ Selamat berkontribusi bagi negeri.. Selamat menjalankan sebaik-baik peran; mendidik sebaik-baik generasi..

*Tulisan untuk Launching Forum Perempuan IPB, April 2012*

Mari Belajar Berdemokrasi (part1)

Sidang paripurna DPR jumat lalu menggelitik saya untuk menuliskan ini..

Saya kembali berpikir akan sebuah pertanyaan sederhana,, sedikit mengingat apa yang pernah dipelajari di sd-smp dahulu mungkin.. Tentu kita ingat bahwa negara lahir dari beberapa unsur, yaitu rakyat, wilayah, dan aturan/hukum. Untuk apakah terbentuknya suatu negara? Untuk mengelola sebuah wilayah bukan? Sebuah wilayah yang terdapat rakyat di dalamnya. Sebuah wilayah yang sejak kecil kita disugestikan bahwa wilayah Indonesia ini begitu kaya.. Mengelola, yang jika diartikan maka berarti memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana tersebut dalam UUD 45 pasal 33. Lalu pertanyaan selanjutnya, untuk apakah sebuah pemerintahan dalam negara tersebut? Jawabannya tentu untuk mengelola negara. Lalu sudahkah pemerintah di negeri ini mengelola negara ini dengan baik? Sudahkah ketiga unsur tersebut; wilayah, rakyat, hukum terintegrasi dengan baik demi mencapai kesejahteraan rakyatnya?

Ah, meski nampak sederhana, sungguh amanah yang tidak mudah bukan?

Di Indonesia (kini), demokrasi merupakan sebuah alat untuk mengelola rakyat, wilayah, dan hukum dalam sebuah kesatuan bernama negara ini. Demokrasi ini direpresentasi dalam trias politika (eksekutif, legislatif, yudikatif) dalam bentuk presidensil yang multipartai. Sidang paripurna kemarin membuat saya semakin bingung antara batasan peran legislatif dan eksekutif yang sudah semakin absurd (menurut saya).  Ya, absurd oleh kepentingan partai..

Maka, tolong ajarkan saya! Apakah benar begitu, ketika sang pemerintah sebagai eksekutif mengambil (berencana mengambil) kebijakan A, lalu para koalisi di legislatifnya (dengan sistemik) berlomba untuk mendukung (setidaknya membantu) kebijakan tersebut meski tidak populer bagi rakyat.. benarkah?

Tolong ajarkan saya pula makna koalisi – oposisi. Apakah ketika oposisi maka setiap kebijakan yang diambil pemerintah harus tidak setuju? Lalu, sebaliknya apakah koalisi berarti harus patuh – manut dengan kebijakan pemerintah meski merugikan rakyat? Begitukah?

Ah, lalu dimana makna perwakilan rakyatnya? Dimana peran menyampaikan aspirasi rakyatnya? Hingga sebuah kebijakan bisa menjadi sangat politis, hingga sebuah kebijakan pun bisa menjadi alat pencitraan.. 😦

-bersambung-

idealisme kami

“Betapa inginnya kami
agar bangsa ini mengetahui
bahwa mereka lebih kami cintai
…daripada diri kami sendiri.Kami berbangga
ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga
bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan,
dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu
yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta
yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur
dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati
ketika kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui
bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci;
bersih dari ambisi pribadi,
bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia;
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas,
apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah-Pencipta alam semesta.”

*Ah, membaca atau menuliskan ini kembali selalu menyentuh relung hati terdalam.. Kawan..apapun mimpimu, yang terpenting selalu sisipkan islam dan indonesia ya.. 🙂

sekedar obrolan orang awam ttg bbm

A:

17:12 pemerintah itu jaga opini publik untuk orang2 yang melankolis..tp utk politisi dan akademisi terkesan plin plan dan ga tegas ya.. jero wacik dari menbudpar jadi energi…kebayang ya…

B:

iya,, rasanya geregetan jadinya,,
kalo memang harus dinaikkan, ya dinaikkan saja,,gak perlu plin plan,, *tapi dengan beberapa catatan 😀

pertama, harus ada sosialisasi dn pencerdasan yg intens ke masyarakat, terkait kondisinya, kenapa harus naik, dn kalo selama ini apbn qt gak imbang krn subsidi bbm terlalu tinggi (apalagi subsidi itu sering gak tepat sasaran krn yg menikmati justru lbh banyak pengguna kendaraan pribadi, bkn masyarakat miskin), dst.. biar masyarakat gak terlalu reaktif nantinya, dn paham kalo harga memang harus dinaikkan..

kedua, pemerintah harus menghitung bener2, berapa kenaikan harganya, berapa pengiritan apbn yg akan didapet, dn berapa inflasi yg akan terjadi sbg efek kenaikan harga.. *gak kebayang inflasi yg terjadi kalo sampe 1500 naiknya..

ketiga, pemerintah harus menjamin penggunaan apbn (hasil dari pengiritan td) masuk ke pos2 yang memang untuk kepentingan rakyat,,, (bukan untuk kenaikan gaji pns dn sejenisnya *untung sy bukan pns :D)

keempat, pemerintah jg harus menjamin distribusi bbm nanti tepat sasaran, dn gak ada lagi oknum2 yg menyalahgunakan, menimbun bbm, dsb..

terakhir, kebijakan ini kan politis banget ya,, maksudku, ini kebijakan yg gak populer di masyarakat, yg berkaitan bgt dgn citra (terutama pak beye), makanya pemerintah terkesan plin plan dlm mengambil kebijakan..

huuaahh.. *eh, ini kok jadi panjang begini yaa..
hanya curahan keresahan sih,,
saya yang gak ngerti apa2 aja bisa resah ya,, ‘negarawan’ yang diatas sana harusnya lebih resah lagi dong.. dan semoga jadi keresahan yang menggerakkan..

ya,, intinya qt doakan saja semoga nanti ada solusi terbaik.. juga kita doakan pak beye semoga selalu sehat dn semoga lebih giat.. 😀

*anyway, kadang ngeliat pak beye saya kaya lagi ngeliat seorang Bapak yang mungkin cukup letih dan bosan dengan rutinitas dan segala komentar yang ia terima ya,, yang pasti dalam hatinya ada kebaikan walaupun cuma sebesar biji zarah,, yang adalah manusia biasa yang jg bisa salah,,

jadi,, mohon maaf ya pak beye..
kita jadi anggota masyarakat yang baik aja yuk,,
biar kita pantas punya pemimpin yang baik kelak.. 😀

A:

bagus analisisnya.. dan menurut sy..menaikan harga BBM itu keputusan yang populis cuma berpotensi besar untuk demarketisasi….sekarang yang dipikirin SBY bukan cuma rakyat..tapi juga untuk menghidupi partai..nah ini yang jadi bikin plin-plan juga…posisi 2014..
masyarakat memang jadi faktor besar memajukan bangsa ini ya..

*sekedar obrolan via gmail.. semoga keresahan yang menggerakkan..

-end- (silakan diambil kesimpulannya sendiri ya..)

Belajar dari Christian Wulff

Pagi ini, saya ‘tiba-tiba’ membaca kembali tentang berita pengunduran diri seorang Presiden karena ‘kesalahan’ yang dilakukannya. Dialah Christian Wulff, mantan Presiden Republik Federal Jerman yang mengundurkan diri dari jabatannya pada jumat 17 Februari lalu.

Itulah pilihan yang diambilnya, ia memutuskan meletakkan jabatannya karena dituduh menerima fasilitas berlibur gratis dari jutawan Jerman saat menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Bagian Lower Saxony pada tahun 2008. Selain itu, ada juga kasus kredit rumah yang menimpanya. Presiden Wulff sempat mencoba bertahan atas tekanan pemberitaan yang gencar mengenai tindakan tidak pantas yang dilakukannya itu, beliau bahkan sempat lepas kendali dan mengancam Harian “Bild” yang terus mendesak dirinya untuk mundur. Hingga akhirnya beliau benar-benar mundur pada Jumat lalu.

Elektabilitas publik. Dalam lingkup kecil (kampus) misalnya, seorang calon ketua BEM sebuah kampus tidak hanya harus memiliki kompetensi dan leadership yang baik, tapi ia juga harus memiliki elektabilitas publik yang juga baik. Hal inilah yang disadari seorang Christian Wulff, bahwa ia sudah tidak memiliki elektabilitas publik yang baik karena kasus yang menimpanya saat itu, maka mundur menjadi pilihannya. Seperti yang dikutip Republika Online, Christian Wulff mengatakan dalam pidatonya; “Jerman membutuhkan seorang presiden yang dipercaya bukan hanya oleh mayoritas partai, tetapi oleh mayoritas rakyat secara luas. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan rakyat sudah rusak. Artinya, efektivitas saya pun rusak. Oleh karena itu, saya tidak mungkin menjalankan kantor kepresidenan, baik di dalam atau di luar negeri.”

Satu hal yang saya kagumi dari kisahnya adalah tentang integritas. Mari berkaca pada ‘negarawan’ di negeri kita. Akhir-akhir ini tentu telinga kita familiar dengan berita-berita tentang; ketua ini menjadi tersangka kasus A atau pejabat itu terlibat kasus korupsi B, dst. Tapi lucunya, meski begitu mereka tak jua mundur dari jabatannya. Padahal, jika integritas sudah ‘dipertanyakan’, masihkah jabatan harus dipertahankan? Padahal ada tanggung jawab besar dibalik setiap jabatan, dan itu harus disadari oleh setiap ‘pejabat’ (baca: siapapun yang sedang menjabat, dengan jabatan apapun, di tingkat apapun). Negarawan negeri ini seharusnya belajar dari Christian Wulff tentang hal ini.

Padahal, betapa beratnya amanah sebagai seorang pemimpin, yang kata Rasulullah;

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya…”.

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung.” (Riwayat Imam Bukhori).

“Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

*mari belajar jadi pemimpin yang baik, kawan.. karena segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan kelak.. mari mulai dari lingkup terkecil (pemimpin atas diri).. sebelum kita diamanahi untuk memimpin sesuatu yang lebih besar nantinya.. 🙂